Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Diperlukan Penguatan Kelembagaan Petani Peternak Untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan

Silaturahmi dan Diskusi

Sleman-KoPi| Dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan, diperlukan kelembagaan yang kuat antarpetani, akademisi, praktisi, dan stakeholder. Berkaitan dengan hal tersebut, Fakultas Peternakan (Fapet) UGM menyelenggarakan silaturahmi dan diskusi terkait pertanian, peternakan, dan perkebunan pada Senin (29/1) di Auditorium Drh. R. Soepardjo Fapet UGM. dengan tema “Bersama Mewujudkan Kedaulatan Pangan Indonesia”.

“Indonesia kaya akan sumber daya alam tetapi masih banyak produk pertanian dan peternakan yang diperoleh dari luar negeri.Saat ini, produk-produk pertanian dan peternakan belum diusahakan secara serius agar diproduksi di Indonesia dengan harga yang terjangkau,” kata Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. PanutMulyono, M.Eng., D.Eng.,ketika membuka acara tersebut.

Melalui kegiatan ini, Fapet UGM dan pelaku usahaberperan untukterus berusaha membuktikan bahwa Indonesia mampu memproduksi produk yang diperlukan masyarakat sehingga ekspor dapat dikurangi.

“Harapannyadaripertemuaninikitadapatmengetahuipermasalahan yang terjadi. Buktikanbahwa Indonesia merupakannegara yang mempunyaiketahananpangan,” ujar Rektor.

Dekan Fakultas Peternakan UGM mengatakan bahwa untuk mewujudkan kedaulatan pangan, diperlukan sinergi antara beberapa bidang.

“Silaturahmi yang rutin perlu dilakukan agar kelembagaan semakin kuat. Acara silaturahmi ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari berbagai daerah, yaitu Bekasi, Sumatera, Sulawesi, Wonosobo, Solo, dan daerah-daerah lainnya, ujar Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPM, dalamsambutannya.

Untuk menyukseskan tercapainya kedaulatan pangan, Prof. Ali Agus telah merumuskan strategimewujudkankedaulatanpangandengankonsep Panca Krida Kedaulatan Pangan Nusantara.

Pertama, komitmen politik dan sinergi kebijakan. Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah sebaiknya bersinergi lintas lembaga ataupun kementerian hingga di tingkat petani. Kedua, optimalisasi pemanfaatan lahan dan air. Ketiga, pemandirian proses produksi pangan. Bibit dan pupuk harus berkualitas bagus agar diperoleh produk pangan yang baik.

“Keempat, pengembanganpasardanpembinaankonsumen. Kita harus mempromosikan kepada konsumen untuk memilih produk lokal. Kelima, penguatan kelembagaan dan jaringan pangan. Kita masih lemah dalam hal kelembagaan, oleh karena itu, perlu diperkuat,” ujar Dekan ketika memimpin diskusi.

Dekan menambahkan, dari silaturahmi ini telahteridentifikasi berbagai masalah, yaitu infrsatruktur, kelembagaan, SDM, dan permasalahan-permasalahan lain. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan dukungan, salah satunya melalui forum silaturahmi.

“Salah satuorganisasi yang optimal adalah koperasi.Kunci kerja sama adalah menerima kekurangan dan kelebihan orang lain supaya terjadi sinergi. Koperasi hendaknya tidak hanya dipandang sebagai kumpulan orang tetapi sekumpulan orang yang mengembangkan usaha, saling mendukung dan bersinergi dari hulu ke hilir,” kata Dekan.

Peserta diskusi dapat menjadi simpul-simpul penting penyambung silaturahmi. “Simpul-simpul ini akan dibantu untuk saling disinergikan menjadi kekuatan bisnis yang saling melengkapi. Tiap-tiap simpul akan memiliki partner, oleh karena itu, tindak lanjut dari pertemuan ini adalah memperkuat simpul-simpul tersebut sebagai embrio kelembagaan baik secara formal maupun non formal,” pungkas Dekan.

back to top