Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Beras tambah mahal, Indonesia perlu ‘deberasisasi’ Featured

Mengolah sagu Mengolah sagu

Surabaya – KoPi | Melambungnya harga beras akhir-akhir ini mendorong kembali ide diversifikasi pangan. Bahan pangan alternatif seperti ubi, singkong, jagung, sagu, dan lain-lain seharusnya bisa menjadi makanan pokok pengganti beras.

Hal itu disetujui Sosiolog Universitas Airlangga, Bagong Suyanto. Indonesia saat ini menghadapi jebakan beras akibat kebijakan yang salah pada masa Orde Baru. Pemerintahan Soeharto yang berharap mewujudkan swasembada beras memaksa petani Indonesia menanam beras dan menjadikan beras makanan pokok warga Indonesia. Akibatnya Indonesia saat ini menjadi begitu tergantung pada beras, sementara lahan pertanian semakin berkurang karena alih fungsi lahan.

“Tidak seperti masa lalu, Indonesia saat ini sudah berubah posisinya. Dari negara yang bisa swasembada beras sekarang menjadi pengimpor beras. Meskipun pemerintah bilang saat ini kita punya kelebihan 10 ton, saya rasa itu beras impor,” kata Bagong.

Karena itu pengembangan pangan alternatif seharusnya bisa menjadi jalan keluar dari jebakan tersebut. Masyarakat Indonesia dari dulu mengenal makanan pokok selain beras. Sudah saatnya mengembalikan kejayaan pangan alternatif seperti ubi, singkong, jagung, dan sagu.

“Saya bilang Indonesia perlu deberasisasi. Jangan terlalu terpaku pada beras,” ujar Bagong.

Diakui Bagong saat ini masyarakat Indonesia masih menganggap beras tidak dapat digantikan. Makanan pokok lain dianggap lebih rendah kastanya dibanding beras. Mereka yang tidak makan beras dimasukkan ke dalam golongan keluarga miskin.

“Makanya itu yang harus diubah terlebih dahulu. Makanan itu kan persoalan lifestyle. Jangan menyebut makanan seperti singkong, ubi, jagung, dan lainnya itu sebagai makanan orang miskin,” tukasnya.

Ia menambahkan bagi kalangan menengah ke atas diversifikasi pangan masih lebih mudah dilakukan. Kalangan menengah ke atas masih bisa makan makanan lain seperti roti atau makanan cepat saji lain.

Sedangkan pada masyarakat menengah ke bawah diversifikasi pangan hanya terbatas pada makanan seperti singkong, ubi, jagung, sagu, talas, dan lainnya. Dari segi gizi makanan pengganti beras memiliki nutrisi yang sama dengan beras. Bahkan ada yang nutrisinya lebih baik daripada beras. Karenanya masyarakat tidak tidak bisa menghakimi apa yang dimakan seseorang.

back to top