Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

6 tekanan petani, paling menohok adalah kebijakan

6 tekanan petani, paling menohok adalah kebijakan
Pengalihan fungsi areal sawah menjadi perumahan dan hotel yang banyak terjadi sangat meresahkan petani. Sebabnya? Otomatis memangkas lahan pertanian para petani.

Sleman-KoPi - Selama ini perhatian pemerintah terhadap pertanian dirasakan minim oleh petani. Hal itu dibenarkan oleh Direktur Eksekutif IHCS, Gunawan, kucuran subsidi 6 triliun rupiah, misalnya dari pemerintah belum mampu mengentaskan Indonesia dari krisis pangan nasional.

“Subsidi tersebut hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan pemasok bibit dan pupuk. Belum lagi dengan keadaan cuaca dan tanah yang tidak bersahabat, dan ditambah minat pemuda untuk terjun kedunia pertanian semakin sedikit. Kesemuanya itu menjadikan Indonesia mengalami krisis pangan nasional”, jelas Gunawan.

Sedangkan untuk menutupi kebocoran pangan ini, pemerintah mengandalkan kebijakan impor komoditas pangan. Kebijakan ini berimbas pada anjloknya harga jual pertanian. Kondisi ini tidak sebanding dengan harga, tenaga dan waktu yang dikeluarkan oleh para petani, demikian Gunawan menjelaskan.

Sementara itu, ketua Joglo Tani Yogyakarta TO Suprapto, melihat dunia pertanian Indonesia mengalami banyak tekanan. Setidaknya ada enam tekanan yang bisa dirasakan. Pertama, tekanan sosial, yaitu pandangan masyarakat bahwa profesi petani adalah 'rendahan'. Kondisi ini membuat banyak anak petani atau sarjana pertanian tidak menajdi petani.

Kedua, tekanan ekonomi. Petani kesulitan mendapatkan akses modal dan berhadapan pada harga produk pertanian yang rendah. Ketiga, tekanan budaya, ke empat tekanan global, alam dan kebijakan. Nah, tekanan kebijakan ini adalah tekanan yang paling menohok nasib para petani Indonesia.

Namun, menurutnya, meskipun banyak kebijakan pemerintah yang kurang mendukung, petani tidak boleh putus asa.

“Untuk mencapai kesejahteraan, petani harus cerdas dalam memanfaatkan lahan sempit, dengan cara menggunakan sistem multikultur yang sedang ia terapkan. Sistem multikultur ini memanfaatkan setiap lahan yang ada menjadi lahan produktif dan menghasilkan“, jelas Suprapto. (baca: Lumbung Mataraman, hasilkan 15 juta per bulan).

Reporter: Haerul Mustakim

back to top