Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

UN online jangan hanya jadi reformasi kosmetik pendidikan Indonesia

UN online jangan hanya jadi reformasi kosmetik pendidikan Indonesia
Surabaya – KoPi | Kebijakan pemerintah melangsungkan Ujian Nasional dengan sistem Online diharapkan dapat meminimalisir adanya kecurangan. Namun, apakah UN online ini akan memiliki dampak pada siswa?

Menurut Tuti Budiahayu, pakar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, kecurangan yang terjadi saat UN lebih dikarenakan persoalan distribusi soal ujian dan keamanan dari pembuat soal ujian itu sendiri. Artinya, kecurangan dari UN didukung oleh sistem di sekitarnya.

Misalnya, guru sengaja mengendorkan pengawasan saat ujian demi menjaga reputasi sekolahnya. Sekolah ketakutan siswa mereka tidak lulus dan berdampak pada nama baik sekolah tersebut. Bukan hanya itu, bahkan beberapa orang tua wali murid juga mendukung perilaku kecurangan tersebut.

“Kadang ada orang tua murid yang men-support siswa untuk melakukan kecurangan saat UN, dengan turut membayari siswa untuk membeli jawaban dari joki,” ujar Tuti. Dosen Sosiologi Universitas Airlangga ini sependapat jika UN online dapat meminimalisir adanya kecurangan dalam UN, asalkan kerahasiaannya terjamin.

Mungkinkah akan ada bentuk kecurangan baru yang muncul dalam UN online ini? Menurut Tuti hal itu tergantung dari bagaimana sistem pendukungnya. Misalnya peran guru, orangtua, dan juga sekolah. “Karena perilaku menyimpang akan terus muncul mengikuti celah yang ada,” tuturnya.

Tuti meyakini kebijakan Mendikbud yang memutuskan UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan merupakan langkah besar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Namun ia berharap kebijakan ini tidak akan hanya berhenti di situ. Peningkatan kualitas pendidikan masih harus terus dilakukan, terutama integritas para siswa. Jika siswa memiliki integritas yang tinggi dalam dirinya maka berbagai bentuk kecurangan akan hilang sendiri secara perlahan-lahan.

“Jangan sampai ini hanya menjadi sebatas reformasi kosmetik pendidikan, di mana pemerintah mengabaikan persoalan moral etika dan kualitas pembelajaran di sekolah. Semestinya hal-hal tersebut lebih patut untuk diperhatikan pemerintah,” ungkapnya. | Labibah

back to top