Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

UN online jangan hanya jadi reformasi kosmetik pendidikan Indonesia

UN online jangan hanya jadi reformasi kosmetik pendidikan Indonesia
Surabaya – KoPi | Kebijakan pemerintah melangsungkan Ujian Nasional dengan sistem Online diharapkan dapat meminimalisir adanya kecurangan. Namun, apakah UN online ini akan memiliki dampak pada siswa?

Menurut Tuti Budiahayu, pakar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, kecurangan yang terjadi saat UN lebih dikarenakan persoalan distribusi soal ujian dan keamanan dari pembuat soal ujian itu sendiri. Artinya, kecurangan dari UN didukung oleh sistem di sekitarnya.

Misalnya, guru sengaja mengendorkan pengawasan saat ujian demi menjaga reputasi sekolahnya. Sekolah ketakutan siswa mereka tidak lulus dan berdampak pada nama baik sekolah tersebut. Bukan hanya itu, bahkan beberapa orang tua wali murid juga mendukung perilaku kecurangan tersebut.

“Kadang ada orang tua murid yang men-support siswa untuk melakukan kecurangan saat UN, dengan turut membayari siswa untuk membeli jawaban dari joki,” ujar Tuti. Dosen Sosiologi Universitas Airlangga ini sependapat jika UN online dapat meminimalisir adanya kecurangan dalam UN, asalkan kerahasiaannya terjamin.

Mungkinkah akan ada bentuk kecurangan baru yang muncul dalam UN online ini? Menurut Tuti hal itu tergantung dari bagaimana sistem pendukungnya. Misalnya peran guru, orangtua, dan juga sekolah. “Karena perilaku menyimpang akan terus muncul mengikuti celah yang ada,” tuturnya.

Tuti meyakini kebijakan Mendikbud yang memutuskan UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan merupakan langkah besar untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Namun ia berharap kebijakan ini tidak akan hanya berhenti di situ. Peningkatan kualitas pendidikan masih harus terus dilakukan, terutama integritas para siswa. Jika siswa memiliki integritas yang tinggi dalam dirinya maka berbagai bentuk kecurangan akan hilang sendiri secara perlahan-lahan.

“Jangan sampai ini hanya menjadi sebatas reformasi kosmetik pendidikan, di mana pemerintah mengabaikan persoalan moral etika dan kualitas pembelajaran di sekolah. Semestinya hal-hal tersebut lebih patut untuk diperhatikan pemerintah,” ungkapnya. | Labibah

back to top