Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Tunjangan guru akan dihapus, siap-siap cari “sampingan”

Tunjangan guru akan dihapus, siap-siap cari “sampingan”
Surabaya-KoPi| Kebijakan pemerintahan yang ingin menghapus tunjangan profesi guru menuai amuk masa dari para kalangan guru Indonesia. Sebelumnya, dalam kampanye pilpres 2014 Joko Widodo berjanji bahwa tunjangan  profesi guru tidak akan dihapus, bahkan kerap akan ditambah.

Seperti yang diketahui, alasan pemerintah ingin menghapus tunjangan profesi guru adalah mutu beberapa guru yang menerima tunjangan terkesan buruk. Hal ini terkait dengan Undang-Undang Aparatur Sipil Negara  (ASN) yang menyatakan bahwa sistem penggajian ASN tidak mengenal tunjangan profesi guru.

Kebijakan ini tentunya membuat getir bagi para guru di Indonesia. Sebab, gaji yang tidak seberapa harus kembali mengecil dengan hilangnya tunjangan profesi guru.

Situasi ini kemudian memunculkan dorongan bagi beberapa individu untuk mencari peluang lain. Seperti yang dilakukan oleh Irfan, seorang guru asal Bandung ini mengantisipasi kekurangan gaji guru dengan cara berjualan.

“Sebenarnya saya berjualan herbal dari tahun lalu. Ini saya lakukan karena gaji guru yang didapatkan masih kurang untuk biaya hidup. Tapi sampingan ini bukan berarti meninggalkan saya untuk mengabdi pada negeri dengan cara mengajar,” ujar Irfan kepada KoPi senin (28/09).

Bagi Irfan, guru adalah abdi. Sehingga penghasilan yang didapatkan bukanlah pencapaian seseorang. “Cari sampingan pekerjaan yang tidak terlalu merepotkan, tapi bisa berpenghasilan lebih. Menjadi guru adalah mencari pahala, kalo mencari gaji, masih ada cara lain,” tutur Irfan.

Wanny, guru asal Sidoarjo juga melakukan hal yang sama. Ia berjualan beras untuk memenuhi kebutuhan penghasilannya.

“Pendapatan menjadi guru tidak cukup untuk kebutuhan hidup. Jualan beras memang tidak besar hasilnya, tapi bisa menunjang,” tutupnya.

Meskipun peluh mereka dalam mendidik anak bangsa, para guru ikhlas dengan bayaran seadanya. Walaupun harus menjalankan kerja sampingan, mereka tetap ikhlas menjalankan peran seorang pendidik. |Labibah|

back to top