Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Skill dan teori tak cukup tanpa diimbangi mental yang baik

Skill dan teori tak cukup tanpa diimbangi mental yang baik

Surabaya – KoPi| Dunia pendidikan Indonesia selama ini dinilai terlalu berkutat pada angka yang tertera pada ijazah dan ranking semata. Akibatnya, sekolah-sekolah mencekokoki peserta didik dengan teori dan hafalan rumus. Ketika lulusan dilepas ke dunia kerja, mereka tergagap-gagap menghadapi kenyataan yang berbeda dengan buku dan teori.

Pembantu Direktur I Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo Ir. Edy Busono menyetujui bahwa bekal teori saja tidak cukup bagi mahasiswa. Dunia kerja pasti membutuhkan skill yang siap pakai dalam menghadapi segala situasi. Namun, bukan hanya bekal skill yang diperlukan peserta didik.

Dalam dunia perikanan, kata Edy, skill saja tidak cukup jika tidak diimbangi mental. Dunia perikanan merupakan dunia yang berat karena harus selalu terjun ke lapangan. Berhari-hari berada di laut merupakan hal lumrah bagi orang yang bekerja di dunia perikanan.

“Coba hitung berapa banyak sarjana perikanan yang bekerja di sektor perikanan. Sedikit yang benar-benar terjun ke situ karena beratnya dunia perikanan ini,” tutur Edy.

Karena itu, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo menerapkan sistem full-boarding school atau sekolah asrama. Dunia asrama dipercaya mampu mendidik mahasiswa agar menjadi manusia berkarakter karena penerapan disiplin yang tinggi.

“Pembentukan mental karakter itu harus dilakukan sejak awal. Makanya semester pertama kami berikan pembinaan mental melalui pendidikan dasar militer. Selain itu peserta didik juga perlu diisi dengan pemahaman agama dan kewarganegaraan. Sehingga, kalau mental mahasiswa tidak siap, dia sudah mundur di semester pertama,” tukas alumni Universitas Brawijaya ini.

Selain itu, lanjut Edy, sistem pendidikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo menggunakan sistem cluster agar mahasiswa dapat segera memperoleh kompetensi. Sistem cluster tersebut membekali mahasiswa dengan pendidikan yang bulat, utuh, dan tuntas. Artinya, tiap semester mulai semester 3, mahasiswa dibekali dengan satu jenis dunia budidaya perikanan, tidak terpecah-pecah. Semester 3 budidaya air payau, semester 4 budidaya air tawar, dan semester 5 budidaya air laut.

“Nah, dengan cara ini, jika ada mahasiswa yang putus di tengah jalan setelah semester 3, mereka sudah punya kompetensi, setidaknya di budidaya air payau,” tukasnya.

Ia percaya, melalui cara demikian mahasiswa Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo yang mayoritas berasal dari putra-putri pelaku perikanan akan bisa langsung terjun di dunia kerja. Selain itu, dengan semua bekal tersebut, mereka akan mampu merevolusi cara-cara nelayan tradisional sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka.

back to top