Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Sekolah formal tak selalu menjamin intelektualitas dan masa depan

Surabaya – KoPi| Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membuat orang menjadi kompeten. Namun kenyataannya kompetensi bisa diperoleh lewat pengalaman. Oleh karena itu meskipun seseorang tidak punya pendidikan secara formal mereka masih bisa memiliki kompetensi, karena mereka belajar secara mandiri.

“Kita punya contoh dari masa lalu, seperti Agus Salim dan Adam Malik. Sekarang kita punya Bu Susi Pudjiastuti. Itu kan orang-orang yang tidak punya pendidikan formal. Tapi karena mereka mau jadi pembelajar, akhirnya mereka bisa menjadi orang besar,” ujar Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof. Dr. Warsono.

Warsono mengingatkan tentang kritik Ivan Illich dalam bukunya yang berjudul Deschooling Society. Dalam buku tersebut Illich menyatakan sekolah itu sebenarnya sebagai penjara, dalam arti sekolah memaksa orang untuk belajar. Sekolah sebagai lembaga pendidikan memang harus mengatur peserta didiknya. Orang mau belajar ini, jamnya harus ini, kurikulumnya harus ini.

“Nah, persoalannya kenapa belajar itu harus pakai dipaksa. Padahal belajar harusnya kebebasan. Kan sebetulnya ada orang-orang otodidak yang belajar tanpa terpaksa, mereka belajar sendiri. Jadi prinsipnya, pendidikan seharusnya membuat orang kompeten. Tapi untuk menjadi kompeten tidak harus selalu lewat pendidikan formal,” tukas Warsono.

Ini artinya ketika orang mau belajar, ia akan jadi orang yang kompeten. Menurut Warsono, belajar tidak harus lewat pendidikan formal. Bisa dengan bertanya pada siapa saja, bisa merenung melalui pengalaman yang dilalui dan direfleksikan, sehingga menjadi kompetensi.

“Memang kalau penganut paham formalis pasti jadi akan protes, tidak setuju. Makanya sekarang kita tanya, what can you do, bukan what do you have,” tutur pria yang sebelumnya menjabat sebagai Pembantu Rektor III Unesa tersebut.

Warsono menyatakan, fakta-fakta ini mestinya bisa memotivasi orang-orang yang mampu kuliah untuk bisa menunjukkan bahwa mereka kompetensi. Jangan sampai punya gelar tinggi, tapi tidak punya kompetensi.

back to top