Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Mengenal Potensi Lokal Melalui Immersion

Mengenal Potensi Lokal Melalui Immersion

Sleman-KoPi| Immersion Program yang telah berjalan selama dua minggu sejak dimulainya tanggal 10 hingga berakhir pada 21 Oktober 2016 diikuti dengan antusias oleh para peserta. Program yang mengusung sub tema Ecotourism Management Capacity Building Program for the Village dan Network and Promotion Management Capacity Building Program for the Village ini sekaligus menjadi bahan presentasi pada hari terakhir ketika kegiatan ini telah usai.

Sebanyak 13 peserta yang terbagi menjadi dua grup, diajak untuk mengenal potensi desa wisata Kebon Agung dan memberikan kontribusi mengembangkan serta mempromosikan sumber dayanya. Selama dua minggu, peserta diajak mengenal kegiatan membatik topeng kayu, membatik kain, cycling keliling desa, mengunjungi museum tani (agriculture museum), mengunjungi makam raja-raja Yogyakarta, serta membuat panganan khas Jogja seperti kue cemplon dan geplak juga menjadi daya tarik immersion program.

Field Assistant Yohanis Lamere mengatakan bahwa program ini mampu mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia yang sesungguhnya. “Peserta yang berasal dari beragam institusi pendidikan dan latar belakang negara yang berbeda memperoleh value di mana budaya Indonesia tidak hanya dikenal bangsanya namun mendunia,” kata mahasiswa tingkat akhir FISIP UAJY ini.

Ilaria Montagna, mahasiswi University of Oslo Norway asal Italia sebagai salah satu peserta immersion mengaku banyak belajar dari kehidupan warga desa dan kebudayaannya. “This museum is really nice, we’ve seen so many instruments that they use like to grow the rice and develop their agriculture and we also have seeds sample here in the museum,” katanya saat mengunjungi Museum Tani.

Hal senada juga diungkapkan Hai Ly Tran, mahasiswi Ilmenau University of Technology, Jerman. “it’s really interesting, i never done it before, but it’s very hard, it might looks easy but it’s hard,” katanya sembari membatik topeng kayu. Bagi Hai Ly seni lukis yang dilakukannya terlihat asing, karena ia dibesarkan di Jerman namun berdarah Vietnamnese. Hasil dari observasi para peserta yang dituangkan dalam laporan tersebut kemudian dipresentasikan kepada beberapa ketua RT, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) serta warga desa Kebon Agung. |Paulus Darma Wicaksono

back to top