Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Mengagetkan, dosen ini telah menjadi 'dosen plus-plus'

Mengagetkan, dosen ini telah menjadi 'dosen plus-plus'

Sungguh mengagetkan sebab dosen terkemuka di Indonesia ini menjadi dosen plus-plus. Padahal, dia telah menelurkan karya-karya ilmu sosiologi yang dihormati oleh kalangan akademisi nasional. Ia menceritakan secara satir perjalannya sebagai seorang dosen yang sedang menimba ilmu doktoral di salah satu universitas terbaik di Indonesia. 


Inilah renungan satir yang semestinya negara ini menjawab. Jika tidak, apa artinya eksistensi negara dalam kehidupan masyarakat? Nama dosen ini adalah Ardhie Raditya, seorang dosen sosiologi dari Unesa. Berikut adalah salinan refleksi satir Ardhie dari akun facebooknya:

Seringkali saya mendengar bahwa pendidikan formal keilmuwan akan terasa menyenangkan dan mendalam saat tingkat doktoral. Di dalam negeri pun tak masalah. Asal, tekun belajar hasilnya akan luar biasa. "Ah, tidak juga", guman saya.

Ini buktinya, sehari-hari terpaksa mencari kayu bakar untuk dijual. Sebagai tambahan modal untuk melunasi bayaran semesteran. Karena bantuan pendanaan tak kunjung datang. Entah apa soalnya. Silahkan kira-kira sendiri saja dari sisi ketajaman nalar genealogis.

Akhirnya, dosen plus mahasiswa seperti saya sering belajar bagaimana menjadi kuli hutan di pedesaan. Daripada seorang ilmuwan, apalagi peneliti profesional yang menghasilkan banyak penelitian dan tulisan yang mendalam. Ini kisahku, bagaimana kisah kalian yang berhasil menikmati pendidikan menara gading itu? | NS |

back to top