Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Masyarakat Magelang keberatan bila sekolah hanya 5 hari

Masyarakat Magelang keberatan bila sekolah hanya 5 hari

Kota Mungkid-KoPi| Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membuat surat edaran kepada Bupati/Walikota di Jawa Tengah tanggal 27 Mei 2015 nomor 420/006752/2015 yang mengintruksikan sekolah lima hari dalam seminggu untuk semua sekolah SMU, SMK dan SLB Khusus mulai ajaran 2015-2016.

Sedangkan untuk jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Pemerintah Kabupate/Kota setempat.

Kepala Sekolah SMU Negeri 1 Kota Mungkid Drs. Asep Sukendar, MPd mengatakan sekolahnya sudah menerapkan kegiatan pendidikan selama lima hari mulai tanggal 27 Juli 2015.

“Semua persiapan sudah dilakukan seperti membuat jadwal. Persiapan Sumber Daya Manusianya dan material seperti yang sudah diinstruksikan Gubernur Jateng melalui Bupati Magelang kemudian di-breakdown ke Disdikpora lewat rapat kerja dinas selama 3 hari. Sudah dibahas tentang plus minus antara 5 hari atau 6 hari kerja, serta kebijakan Bapak Bupati untuk melaksanakan kegiatan 5 hari per minggu berikut evaluasinya,' katanya.

Selanjutnya pihaknya hanya menunggu payung hukumnya melalui peraturan daerah yang akan diterbitkan oleh Bupati Magelang.

Pihaknya juga merencanakan kegiatan 5 hari ini secara matang, termasuk hari Sabtu agar tidak ada kegiatan. Harapannya agar seperti instruksi gubernur agar hari Sabtu dapat digunakan siswa berinteraksi dengan keluarga dapat tercapai, tambahnya.

Asep juga mengatakan sekolah sudah mengatisipasi dengan mencoba mengurangi efek samping yang timbul dari kegiatan 5 hari ini, misalnya pengaturan jam istirahat, jam kerja guru dan makan siang siswa. Sekolah akan memberikan fasilitas dengan harga murah dengan subsidi dari sekolah, dan lain-lain.

Sementara itu pihak Disdikpora dan Humas Kabupaten Magelang melalui Edy Wasono belum bisa memberikan konfirmasinya berkaitan dengan payung hukumnya.

Keberatan

Menanggapi kebijakan baru ini, beberapa masyarakat yang anaknya bersekolah di wilayah Kota Mungkid justru merasa keberatan. Ibu Rowiyah, misalnya, warga Tanjung menyampaikan keberatan dengan alasan transportasi.

“Pemerintah Kabupaten tidak memperhatikan kebutuhan akan transpotasi . Seharusnya Pemkab Magelang memberikan fasilitas bus sekolah. Selama ini hanya ada satu perusahaan bis yang melayani jalur Magelang-Borobudur. Jika pulang terlalu sore , takutnya bisnya sudah tidak ada. Bila ada pun biasanya akan berjejelan pada jam sibuk. Selain itu biaya-biaya yang akan timbul seperti ongkos makan siang otomatis akan sangat membebani. Lebih baik tetap di enam hari seperti biasanya saja,” jelasnya.

Tanggapan senada juga disampaian salah seorang guru sebuah Sekolah Menengah Kejuruan yang tidak bersedia menyebutkan namanya.

“Penerapan kegiatan pendidikan 5 hari tidak bisa diterapkan pada sekolah kejuruan, karena kegiatan 6 hari seminggu saja siswa sudah pulang sore hari dengan adanya kegiatan pratikum dan praktek-praktek. Di samping itu kondisi sosio-kultural dan kondisi geografi yang berbeda-beda satu daerah dengan daerah yang lain akan menentukan keberhasilan progam ini.”

back to top