Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Sleman-KoPi| Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan inovasi sebuah produk komposit magnetik karbon aktif yang mampu menyerap kandungan limbah merkuri. Limbah ini sering dihasilkan di tambang-tambang emas.

 

Tim beranggotakan 4 Mahasiswa aktif ini adalah M. Rifqi Al-Ghifari (Kimia 2014), Bagas Ikhsan Pratomo (Kimia 2014), Charlis Ongkho (Teknik Fisika 2015) dan M. Ilham Romadon (Akuntansi 2015). Mereka tergabung dalam sebuah grup riset SuperC6 yang melakukan penelitian tentang limbah tambang.

“Kami mengembangkan produk karbon magnetik berbentuk bubuk yang bisa menyerap kandungan merkuri dari limbah di lingkungan,” jelas Rifqi, sebagai ketua tim riset SuperC6, di kantor Humas UGM, ditulis Sabtu (26/5).

Penelitian ini berawal dari keprihatinan mereka pada banyaknya temuan limbah merkuri di kawasan pertambangan, seperti saat pemantauan di desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kulonprogo. Para penambang menggunakan bahan kimia merkuri untuk memisahkan emas dari material lainnya. Pengelolaan limbah nya pun dirasa kurang dilakukan dengan baik.

“Limbah merkuri hanya ditampung di sejumlah kolam penampungan untuk diendapkan. Proses pengendapan sendiri tidak lantas mengurangi kadar merkuri dalam limbah," kata Amin, sapaan akrab Rifqi Al Ghifari.

Berawal pada keprihatinan terhadap banyaknya limbah merkuri di pertambangan inilah, mereka mencoba mengembangkan produk senyawa untuk mengurangi kadar merkuri sebelum dilepas ke lingkungan.

Mengambil sampel air limbah dari kawasan tambang emas Kalirejo, Kulon Progo, mereka mulai melakukan penelitian. Dari uji coba dengan mengaplikasikan material karbon magnetik ke dalam air limbah menunjukkan hasil signifikan yakni mampu mengikat merkuri dengan optimal.

"Hasilnya menunjukkan produk ini mampu menyerap merkuri hingga 0,01 mg Hg per gram karbon aktif,” ungkapnya. 

Inovasi produk pengikat merkuri ini dikembangkan dengan menggunakan material murah dan mudah dijumpai di masyarakat. Mereka memanfaatkan limbah kayu jati dari industri furnitur yang belum banyak dimanfaatkan.

"Selain kayu jati kami juga mencoba membuat karbon aktif dari tandan kosong kelapa sawit dan batok tempurung kelapa, tapi dua bahan ini tidak cukup tersedia di sini" tambah Bagas Ikhsan.

Ada kendala pula yang di hadapi tim ini, salah satunya adalah senyawa sering kali rusak dan menjadi abu. Barulah setelah berkali-kali percobaan tercetuslah ide untuk menambahkan senyawa magnetit (fe3o4) ke dalam karbon aktif yang mampu memberikan sifat magnet pada material sehingga permasalahan pengumpulan karbon aktif bisa diatasi.

"Dengan penggabungan magnet ini memudahkan pengambilan kembali karbon aktif yang tersebar usai pemakaian. Komposit magnetik karbon aktif ini dapat digunakan untuk menyerap limbah merkuri hingga 3 kali pemakaian," urainya. 

Saat ini grup riset Super C6  terus melakukan penelitian lebih mendalam untuk pengembangan produk dan mematenkan produk tersebut. Selain itu, mereka  juga giat mencari investor dan menjalin kerja sama dengan mitra. 

“Sekarang kami masih terus melakukan pengembangan-pengembangan produk dan rencana kedepan bisa memproduksi dalam skala massal,” imbuh Ongkho dan Ilham.

 

 

back to top