Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Liberalisme memicu kiamat?

Liberalisme memicu kiamat?

Jogja-KoPi| Bisa saja kehancuran bumi terjadi di tahun 2024 karena keserakahan yang mengatasnamakan kemakmuran terbuka, mealalui ledakan penduduk, perebutan sumber daya alam, kehancuran lingkungan. Ketika jumlah anak manusia di bumi mencapai 8 miliar, hasil dari kelipatan 12 tahunan sejak 1975. Demikian Adi Dedi Mulawarwan mengatakan.

Adi Dedi Mulawarman, Founder Yayasan Rumah Peneleh dan Penulis dalam bedah buku 2024: Hijrah untuk Negri Kehancuran atau Kebangkitan (?) Indonesia dalam Ayunan Peradaban, Sabtu (18/2) bertempat di Aditorium Filsafat UGM Lt 3,  mengatakan bahwa daya tampung bumi hanya 4 miliar. “Ini merupakan kejadian demografis luar biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya,” katanya.
    
Akan terjadi puncak perebutan pangan dan energi di tahun 2019-2020 oleh semua negara. Negara berkembang tidak akan bisa menjadi negara maju. “Negara maju hanya memberikan sumbangan pada negara miskin, bukan membuat mereka maju. Negara berkembang dibentuk sebagai negara konsumtif dan liberal termasuk Indonesia,” jelas Adi Dedi Mulawarman.
    
Apakah hal ini akan memicu kiamat? Mungkin tidak ketika umat mengembalikan Tuhan dalam keadaan semestinya, bukan justru menghilangkan peran-Nya. Liberalisme, pragmatisme, serta sekulerisme dilawan dengan keberadaan zat-Nya. Akan terjadi kiamat di tahun 2024 ketika Tuhan tidak dihadirkan dalam perebutan pangan dan energi. Kenyataan tidak dapat dilepaskan dari titah langit seperti yang dilakukan oleh liberalisme.
    
Liberalisme yang terjadi akibat perebutan pangan dan energi akan menjadikan negara berkembang menjadi negara sasaran dari negara maju. Pengekplotasian akan semakin bertambah baik SDA maupun SDM. Liberal akan menjadi cara berpikir masyarakat.

Untuk itu perlu adanya pengembalian cara berpikir dari liberal ke ideologi Pancasila. “Cara berpikir liberal harus dikembalikan, kalau tidak negara ini akan terombang-ambingkan karena tidak punya agama tidak punya kejelasan,” kata Adi Dedi Mulawarman. Sedangkan negara lain akan mudah menyuntikan berbagai ideologi ke dalam negarai ini.
    
Untuk itu konsolidasi umat harus diperkuat sebagai promotor dalam mengantisipasi kiamat yang akan terjadi. Sehingga keserakahan yang mengatasnamakan segala keperluan dan kebutuhan tidak menguasai manusia. Kehendak manusia dapat dikengkang dengan adanya agama.

"Ketika Tuhan dibunuh dalam tubuh manusia maka kehendak yang menguasai manusia dan akhirnya menimbulkan perikau konsumtif," kata Adi Dedi Mulawarman. Ketika kuasa kehendak yang menguasai manusia maka rakyat tidak memilki kedaulatan sendiri dan terjadi kiamat, dalam maksud penghancuran dunia akibat perebutan pangan dan energi antara negara-negara di dunia.

back to top