Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Jogja-KoPi| Pakar Manajemen sekaligus Ketua Program MM FEB UGM Hany Handoko MBA Ph.D., mengatakan kreativitas bisa dilatih bukan dibawa sejak lahir. Meski tidak semua orang bisa menjadi inovator namun melahirkan manusia kreatif dan inovator bisa dilatih dengan menggali ide dan mengeksekusi ide tersebut ke masyarakat.

“Kreatifitas bukan dibawa sejak lahir, tapi bisa dilatih,” kata Hany handoko dalam membuka Talkshow yang bertajuk Menemukan Masalah, Menggali Ide Bisnis, di ruang auditoriium MM UGM, Jumat (21/9).

Menurut Hany, seorang Steve Jobs yang dikenal sebagai inovator teknologi ternyata bisa melahirkan karya inovasi dengan melatih diri. Ia menceritakan kisah Steve Jobs yang awalnya menemukan sebuah masalah dimana komputer yang dihidupkan menimbulkan suara bising karena adanya suara motor kipas dalam perangkat kerasnya. “Bayangkan ia sampai ke India untuk kontemplasi untuk mencari ide,” katanya.

 Ia pun mengharapkan anak-anak muda bisa melahirkan kreatifitas serupa dengan melahirkan ide baru dan mampu mengimplementasikannya menjadi sebuah ide bisnis. “Setiap ada masalah muncul ide, bukan lagi gerutuan,” katanya.

Namun demikian, imbuh Hany, untuk mengeksekusi sebuah ide tentu tidak mudah bahkan banyak tantangan yang harus dihadapi dan diatasi apalagi dalam rangka mengembangkan sebuah usaha bisnis rintisan atau startup, “Usaha rintisan bisa menjadi solusi untuk penciptaan lapangan kerja dan permasalahan sosial saat ini,” katanya.

 Deputi Program MM UGM Bayu Sutikno, Ph.D menuturkan aspek pendanaan masih menjadi kendala terbesar bagi pengembangan bisnis rintisan di Indonesia. Selain itu soal tarif perpajakan dan perlindungan konsumen masih jadi persoalan yang banyak ditemukan di lapangan.

“Ibarat bayi, startup yang baru bangun itu sudah dikenai pajak, selanjutnya aturan perlindungan konsumen masih perlu diperbaiki karena urusan privasi dan kualitas produk sangat diperlukan,” katanya.

Fadli wilihandarwo, CEO startup Pasienia, mengatakan ia sempat mengalami kegagalan dalam masa pengembangan aplikasi yang menghubungkan komunikasi antar pasien tersebut. “Meski sempat menang di kompetisi google, saat lauch kita memiliki 3000 user namun pernah turun hingga tinggal 5 user saja,” kenangnya.

 Pengalaman tersebut menurutnya sangat berarti baginya selaku founder aplikasi tersebut hingga ia bersama ketiga rekannya mengevaluasi penyebab user meninggalkan layanan aplikasi tersebut.,”Kegagalan menjadi penyemangat, jangan sampai setiap kegagalan membuat kita terhenti berkreasi,” ujarnya.

 Head of Marketing Communications Kantor Innovative Academy (IA) UGM, Alex Dharmawangsa, mengatakan Pasienia merupakan hasil binaan dari program Innovative Academy UGM yang sudah dirintis sejak 2014 lalu.

Program ini diperuntukan bagi mahasiswa untuk menyalurkan ide kreatif mereka dalam bidang dunia digital.

“Melalui IA, kita mengajak mahasiswa mengubah pola pikir, membuat solusi dari setiap masalah, selanjutnya solusi tersebut bisa dieksekusi dan divalidasi,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top