Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Kesenjangan menyebabkan intoleransi

Kesenjangan menyebabkan intoleransi

Jogja-KoPi| Mantan Walikota Yogyakarta periode 2001-2011, H. Herry Zudianto, SE.Akt,MM berpendapat intoleransi bukan masalah ideologi namun kesenjangan yang terjadi di masyarakat. Kesenjangan di berbagai sektor seperti ekonomi, sosial dan agama menumbuhkan rasa intoleransi, katanya.

"Perbedaan kondisi antar setiap orang inilah yang membuat membuat seseorang menjadi intoleransi.

Intoleransi, isu SARA, nrimo ing padu (menerima tapi masih mempermasalahkan), itu berhubungan dengan kesenjangan sosial, ekonomi dll," ujarnya saat mengisi studium generale, Di Gedung KH. Saifuddin Zuhri, UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (11/2).

Beberapa kasus intoleransi yang kuat seperti kasus terorisme, Herry Zudianto berpendapat bahwa kondisi individu tersebut tidak berbicara ke ideologi, namun kondisi individu yang sudah putus asa atau hopeless yang menerima dogma agama yang salah.

Ia juga menjelaskan keberagaman sudah ada dalam kebhinekaan yang dirintis oleh pendiri negara. Indonesia sendiri sudah menerima kemajemukan budaya, ras dan agama karena memang para pendiri serta masyarakat bersama dalam keadaan senasib dan bercita-cita sama membuat satu negara.

"Negara kita dibangun berdasarkan kemajemukan berdasarkan pilihan yang disadari untuk membuat satu negara," jelasnya.

Permasalahan kesenjangan diberbagai sektor inilah yang memperkeruh kebhinekaan serta intoleransi, beberapa penyebab pun menjadi pemicu munculnya intoleransi. Salah satunya adalah kurangnya interaksi sosial antarsesama.

Herry mengatakan interaksi antarindividu mampu memahami perbedaan dan kesamaan antarindividu. Bermain aman seperti tidak ikut campur atau tidak peduli pada permasalahan justru merusak hubungan antarsesama ini.

"Ini akan menjadi permasalahan jika kita hanya mencari aman,karena di situlah kita tidak menjadi Indonesia secara utuh karena Interaksi yang kurang."

Dengan melihat persamaan terlebih dahulu dibandingkan perbedaan akan membantu dalam menerima proses perbedaan dan keberagaman. Menurutnya, manusia sendiri sudah tercipta untuk menerima perbedaan dan keberagaman,  namun rasa takut pada perbedaanlah yang merusaknya, rasa takut ini hanya berupa wacana.

Mantan walikota itu juga mengatakan untuk mencapai toleransi dan kebhinekaan, bisa dengan kembali ke konsep nenek moyang seperti istilah Tepo Slira (tenggang rasa), Tresno Jalaran Seko Kulino (Cinta karena terbiasa /interaksi).

"Toleransi itu saling mengisi satu sama lain, bukan saling membedakan satu sama lain,"pungkasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

 

back to top