Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Kepercayaan orang tua lebih penting daripada sidik jari

Kepercayaan orang tua lebih penting daripada sidik jari
Sekolah berbondong-bondong adaptasi absen sidik jari. Reformasi kosmetik pendidikan?

Surabaya - KoPi | Menyikapi maraknya aksi bolos siswa pada jam belajar, berbagai sekolah kini telah mengganti absensi mereka dengan finger print. Sistem absen yang menggunakan sidik jari ini juga mulai digunakan beberapa sekolah di Surabaya.

Salah satunya sekolah SMA GIKI (Gita Kirti) Surabaya. Menurut Huda selaku Kepala Bidang Kurikulum SMA GIKI, sekolahnya telah menggunakan absen fingerprint selama dua bulan. “Siswa datang ke sekolah, absen finger print, lalu orang tua di rumah akan mendapatkan laporan SMS dari sistem tersebut,” ujar Huda saat menjelaskan cara penggunaan sistem tersebut.

Saat ini 25% sekolah di Surabaya dan 95% sekolah di Gresik telah menggunakan finger print sebagai pengganti absensi hadir siswa. Biaya untuk pengadaan alat tersebut beragam. Beberapa sekolah membebankan biaya tersebut pada orang tua murid, namun ada juga yang dana operasional sekolah. 

Menurut pakar sosiologi pendidikan Universitas Airlangga Tuti Budiahayu, kepercayaan orang tua terhadap anak yang lebih penting dibanding adaptasi teknologi baru. “Absensi merupakan bentuk tanggung jawab siswa pada dirinya sendiri, komitmen mereka untuk melaksanakan tugas pendidikan. Seharusnya siswa bisa menata diri sendiri untuk bertanggung jawab kepada orang lain tanpa perlu pengawasan seperti itu,” ujar Tuti.

Tuti mnenilai penggunaan alat ini hanya sekedar reformasi kosmetik sekolah. Sekolah dinilai lebih maju apabila mengadaptasi teknologi baru. Padahal teknologi yang lebih dibutuhkan adalah yang bisa meningkatkan kualitas guru dan pembelajaran. "Pada hakekatnya adalah bagaimana memanusiakan manusia. Murid bukan robot yang bisa dikuantifikasi. Jika murid sering bolos, pihak sekolah harus memberikan teguran, tidak hanya menggunakan pemberitahuan dengan sistem tersebut,” ujar Tuti.

Sistem yang dibutuhkan sekolah adalah bagaimana sekolah mengkomunikasikan kegiatan mereka. Menurut Tuti, teknologi di sekolah baru bisa dioptimalkan dengan baik jika ada pengelolaan yang intens. Pengelolaan tersebut merupakan tanggung jawab pihak perusahaan yang menyediakan teknologi tersebut. “Perusahaan tidak hanya sekedar mengambil untung dari sekolah, melainkan turut memajukan pendidikan Indonesia itu sendiri,” ujar Tuti. | Labibah

back to top