Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Distorsi mafia migas Indonesia

Distorsi mafia migas Indonesia

Industri Minyak dan Gas (Migas) merupakan salah satu Sumber Daya Alam (SDA) strategis yang tidak terbarukan, dan menyumbang 30% penerimaan negara, terbesar kedua setelah pajak. Industri Migas merupakan komoditas hajat hidup orang banyak dan berperan penting dalam perekonomian nasional.

Diskusi Perekonomian Indonesia yang bertemakan "Membangun Industri Berbasis Sumber Daya Alam", dengan pembicara Dr. Fahmy Radhi, MBA., Ph.D., Dosen Departemen Ekonomika Terapan dan Bisnis UGM, sedangkan Aloysius Gunadi Brata, SE., M.SI (UAJY) bertindak sebagai moderator. Audiotorium Kampus 3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) (20/9) lalu.

Diskusi yang dimulai pukul 10.00 WIB dan dihadiri kurang lebih 80 mahasiswa ini membahas mengenai Distorsi Mafia pada Industri Minyak dan Gas (Migas) di Indonesia. Mafia Migas sendiri adalah individu dan/atau kelompok yang memburu rente dengan memanfaatkan kelemahan tata kelola dan kedekatan dengan penguasa, sehingga berdampak pada tidak optimalnya produksi Migas, inefisiensi dan ekonomi biaya tinggi pada penyediaan BBM dan mata rantai supply Migas. (Pokja Energi Tim Transisi Jokowi-JK)

Fahmy menjelaskan, tantangan Industri Migas di Indonesia di antaranya adalah peredaran yang mengarah ke kawasan timur Indonesia, lebih banyak ke arah lepas pantai dan laut dalam, serta industri yang didominasi oleh gas. Mahalnya harga gas berdampak pada biaya produksi industri pengguna gas menjadi tinggi, yang berujung harga jual produk bahan baku gas menjadi mahal. Naiknya harga barang-barang tersebut otomatis memberatkan konsumen dan produk ekspor kalah bersaing.

Indikasi Praktik Mafia Migas di Hilir, Fahmy menambahkan, tidak kunjung dibangunnya Kilang Minyak di dalam negeri yang menyebabkan Indonesia semakin tergantung pada impor minyak, disebut sebagai ulah mafia. Selain itu, tidak transparasi dalam penetapan harga Pokok Penjualan BBM Bersubsidi mengindikasikan adanya mark-up oleh pemburu rente (“rent-seeking”).

Terakhir, perlunya reformasi mengenai tata kelola migas untuk menutup celah bagi masuknya mafia migas dan menuangkan tata kelola tersebut ke dalam UU dan Peraturan Perundangan, serta Penguatan Kepemimpinan menjadi hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia agar mafia migas dapat berkurang lagi dan lagi sehingga kedepannya negara Indonesia bisa bebas dari mafia migas. (Nadia)

back to top