Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Diskusi Media Komunitas Melawan Hoax

Diskusi Media Komunitas Melawan Hoax

Sleman-KoPi| Combine Research institution (CRI) mengadakan diskusi publik bertajuk "Media Komunitas Melawan Hoax" di ruang Bulaksumur, Gedung University Club UGM, Sabtu (4/1). Hadir sebagai narasumber Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar, Suwarjono, Ketua Aliansi Jurnalistik independen Indonesia (AJI), Ahmad Rofahan, Media Komunitas Jingga Merah, dan Imung Yuniardi Ketua CRI.

Diskusi ini menanggapi maraknya peredaran hoax di media online dan media sosial, sehingga masalah hoax menjadi masalah yang dirasa perlu untuk dilawan dengan serius.

Sebelumnya upaya melawan hoax ini telah dilakukan dengan mendeklarasikan Masyarakat Antihoax di beberapa wilayah. Pemerintah pun mengeluarkan kebijakan menutup media-media online yang dianggap penyebar hoax. Sementara Dewan Pers berupaya melawan hoax dengan memberikan label ke media yang dianggap abal-abal.

Menurut Imung, media komunitas sering dianggap hanya sebagai media alternatif dan dipandang sebelah mata. Namun, untuk konten atau kualitas tidak jauh berbeda dengan media pers yang formal. Selain itu, menurtnya media komunitas bisa menjadi partner Dewan Pers untuk melawan hoax dan berita abal -abal yang ada di masyarakat.

"Yang membedakan media komunitas adalah fokus yang di wilayah itu atau dikomunitas itu dan tidak merambah ke lain-lain. Media komunitas juga bisa menjadi partnernya dewan pers untuk melawan media abal-abal," ujar Imung Yuniardi.

Sementara itu, Ahmad Djauhar Wakil Ketua Dewan Pers mengatakan untuk kasus hoax ini mayoritas berasal dari media sosial. Namun penyebarannya menjadi merambah ke media-media lain.

"Sumber Hoax pertama merambah di media online lalu merambah ke media cetak lalu ke media sosial yang nantinya mengarah ke TV," jelas Ahmad Jauhar.

Ketua Aji , Suwarjono juga memperjelas bahwasanya salah satu pendorong hoax adalah masyarakat yang mudah menggunakan media sosial dan tidak menggunakan manfaatnya.

"Masyarakat bisa menggunakan medsos yang sudah diinjeksi di smartphone yang mereka sebelumnya tidak pernah memanfaatkannya," ujarnya. |Syidiq Syaiful Ardli|

back to top