Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

Bunuh diri akibat sering “di-bully”.

KoPi, Sebuah riset yang dilakukan oleh kelompok anti-bullying, Ditch The Label, menunjukkan bahwa 45% pelajar dengan rentang usia 13-18 tahun pernah “di-bully” (digertak atau diganggu) dan hal yang sering dijadikan bahan untuk mem-bully seseorang adalah penampilan fisik.

Profesor Ian Rivers dari Brunel University menyatakan bahwa hasil riset tersebut menunjukkan bahwa kita masih punya tantangan yang amat besar untuk memastikan bahwa generasi muda kita aman saat berada di sekolah dan dapat belajar dalam lingkungan pendidikan yang mendukung.


Survey penelitian tersebut menunjukkan bahwa 61 persen murid  yang sering “di-bully” mendapat serangan secara fisik dan 10 persen lainnya mengalami pelecehan seksual. Perlakuan-perlakuan tersebut menimbulkan efek pada harga diri mereka. Dan akhirnya, efek ini mengarah kepada  tindakan yang tak diinginkan seperti menyakiti diri sendiri dan bahkan bunuh diri.


“Bully” sering terjadi kepada murid yang berkebutuhan khusus. Mereka juga kerap kali dikucilkan. Lebih lanjut, tindakan “bully” mengarah pada diskriminasi ras, agama dan homophobia.


Tak hanya berimbas kepada harga diri sang murid, tindakan “bully” ternyata berimbas pada hasil dan prestasi belajar mereka karena ternyata murid-murid yang menjadi target “bully” seringkali mendapatkan nilai yang kurang bagus dalam ujian mereka.

 


 (Ana Puspita Sari)
Sumber: The Independent



back to top