Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Bagi Pengajar: "Takut itu baik"

Bagi Pengajar: "Takut itu baik"

Inggris-KoPi| Kepala sekolah harus menanamkan "budaya takut" di sekolah mereka. Konsep ini dipaparkan dalam konferensi pengenalan sistem pembayaran berdasarkan kinerja untuk para guru.

Dirilis oleh The Independent, "Guru yang buruk seharusnya takut—harus sangat takut," ujar Steve Fairclogh, kepala Sekolah Abbotsholme di Rocester, Staffordshire.

Dirinya diminta menjadi narasumber dalam konferensi nasional para kepala sekolah dan pendidik yang membahas kebijakan pemerintah yang memberikan wewenang kepada para kepala sekolah untuk menentukan sendiri gaji bagi guru-guru mereka.

Fairclough, pimpinan dari sekolah yang mendapatkan penghargaan dari badan pengawas atas sistem kepemimpinannya yang patut dijadikan inspirasi, menyatakan, "Pengenalan sistem pembayaran berdasarkan kinerja adalah sebuah mekanisme untuk menghilangkan guru berkinerja buruk dan menjaga guru yang berkinerja baik di sekolah kami."

Nilai baik sekolah tidak hanya diukur dengan hasil ujian namun lebih pada "proses pencapaian hasil tersebut". Penyebab keburukan, guru berkinerja buruk dan semua pihak yang menjadikan cela dan tidak menguntungkan untuk sekolah harus dihilangkan. Sekolah juga harus mempertimbangkan pembayaran dengan melihat kualitas seperti kejujuran, integritas dan keteguhan dari semua pihak tersebut.

Meskipun sistem ini dinilai baik, ada beberapa pihak yang kurang setuju dengan pendapat Fairclough.

Chris Keates, Sekretaris Jenderal National Association of Schoolmasters Union of Women Teachers, berpendapat bahwa sistem ini justru malah akan menambah tingkat resiko penyakit yang disebabkan oleh perasaan tertekan di kalangan para guru. Lebih lanjut, hal ini dinilai sebagai bentuk intimidasi pekerjaan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Christine Blower, Sekretaris Jenderal National Union of Teachers. Ia menyatakan, "Para guru perlu didukung dan diberi dorongan untuk dapat semangat dalam bekerja, bukan dibuat takut oleh penilaian kepala sekolah."

"Pembayaran berdasarkan kinerja hanya akan berakhir dengan membayar banyak guru dengan gaji yang semakin sedikit, bukan semakin bertambahnya guru-guru yang berkinerja baik. Mengajar adalah profesi kolaboratif dimana pengukuran kontribusi individual para guru tidak mungkin dilakukan. Keputusan yang dihasilkan akan tidak adil, subjektif, bahkan mendiskriminasi." |Ana PS| Retno Ayu 

back to top