Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Bagi Pengajar: "Takut itu baik"

Bagi Pengajar: "Takut itu baik"

Inggris-KoPi| Kepala sekolah harus menanamkan "budaya takut" di sekolah mereka. Konsep ini dipaparkan dalam konferensi pengenalan sistem pembayaran berdasarkan kinerja untuk para guru.

Dirilis oleh The Independent, "Guru yang buruk seharusnya takut—harus sangat takut," ujar Steve Fairclogh, kepala Sekolah Abbotsholme di Rocester, Staffordshire.

Dirinya diminta menjadi narasumber dalam konferensi nasional para kepala sekolah dan pendidik yang membahas kebijakan pemerintah yang memberikan wewenang kepada para kepala sekolah untuk menentukan sendiri gaji bagi guru-guru mereka.

Fairclough, pimpinan dari sekolah yang mendapatkan penghargaan dari badan pengawas atas sistem kepemimpinannya yang patut dijadikan inspirasi, menyatakan, "Pengenalan sistem pembayaran berdasarkan kinerja adalah sebuah mekanisme untuk menghilangkan guru berkinerja buruk dan menjaga guru yang berkinerja baik di sekolah kami."

Nilai baik sekolah tidak hanya diukur dengan hasil ujian namun lebih pada "proses pencapaian hasil tersebut". Penyebab keburukan, guru berkinerja buruk dan semua pihak yang menjadikan cela dan tidak menguntungkan untuk sekolah harus dihilangkan. Sekolah juga harus mempertimbangkan pembayaran dengan melihat kualitas seperti kejujuran, integritas dan keteguhan dari semua pihak tersebut.

Meskipun sistem ini dinilai baik, ada beberapa pihak yang kurang setuju dengan pendapat Fairclough.

Chris Keates, Sekretaris Jenderal National Association of Schoolmasters Union of Women Teachers, berpendapat bahwa sistem ini justru malah akan menambah tingkat resiko penyakit yang disebabkan oleh perasaan tertekan di kalangan para guru. Lebih lanjut, hal ini dinilai sebagai bentuk intimidasi pekerjaan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Christine Blower, Sekretaris Jenderal National Union of Teachers. Ia menyatakan, "Para guru perlu didukung dan diberi dorongan untuk dapat semangat dalam bekerja, bukan dibuat takut oleh penilaian kepala sekolah."

"Pembayaran berdasarkan kinerja hanya akan berakhir dengan membayar banyak guru dengan gaji yang semakin sedikit, bukan semakin bertambahnya guru-guru yang berkinerja baik. Mengajar adalah profesi kolaboratif dimana pengukuran kontribusi individual para guru tidak mungkin dilakukan. Keputusan yang dihasilkan akan tidak adil, subjektif, bahkan mendiskriminasi." |Ana PS| Retno Ayu 

back to top