Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Anak perempuan butuh dampingan mentor

Anak perempuan butuh dampingan mentor

Inggris-KoPi, Para mentor dapat mendorong anak perempuan untuk meningkatkan karir ilmu pengetahuan mereka. Pendapat ini dinyatakan dalam kampanye yang diadakan oleh National Union of Teachers (NUT).

Max Hyde, pengajar sains di Warwickshire, mengungkapkan bahwa dirinya menginginkan lebih banyak mentor dilibatkan di sekolah-sekolah untuk berdiskusi dengan para murid mengenai pilihan karir mereka dan untuk mempromosikan pilihan-pilihan ilmu pengetahuan bagi murid perempuan yang nilai pelajarannya kerap menurun.


Hyde, yang kini menjadi ketua NUT, dalam konferensi tahunan di Brighton menyatakan: “Salah satu masalah yang kita hadapi adalah, dengan begitu banyaknya target dan tanggungjawab, para guru kini tak lagi punya waktu untuk berdiskusi dengan para murid mengenai pilihan masa depan mereka.”


Hyde juga menambahkan bahwa menentang gender-stereotype juga perlu dilakukan. “Saya lebih suka melihat murid perempuan menjadi arsitek dan murid laki-laki bekerja di pusat layanan kepedulian masyarakat,” tuturnya.


(Ana Puspita Sari)
Sumber: The Independent


back to top