Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Ajarkan karakter bangsa melalui tari

Ajarkan karakter bangsa melalui tari

Jogja-KoPi| “Tari bukan hanya bentuk yang disuapkan melainkan ajaran yang diajarkan secara kreatif”, ujar Dra. Gusyanti, M.Pd pada Gebyar Seni dan Talk Show PGMI UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (7/1).

Banyak pengajar yang salah dalam mengartikan tari. Tari hanya dikenalkan dalam bentuk fisiknya saja, namun mengenai tujuan, arti, dan makna kadang terlupakan. Padahal, tari sangat berkaitan dengan karakter bangsa Indonesia. Mengajarkan tari sama halnya dengan mengajarkan karakter bangsa. 

Tari terdiri dari adaya gerak, ruang, iringan, dan estetika. Tari menciptakan sebuah kemudahan dalam memaknai sesuatu. Anak akan lebih mudah memahami suatu hal melalui tari, baik dari alam dan lingkungan, serta dapat dengan mudah menangkap pengajaran karakter bangsa yang diajarkan. 

“Anak pada saat ini lebih sulit dalam mengenali lingkungannya, mereka lebih mudah mengenali gadget,” jelas Dra. Gusyanti, M.Pd.

Gadget menjadi ancaman tersendiri bagi lunturnya karakter bangsa Indonesia. Tanpa adanya metode pengajaran yang pas dalam mengajarkan karakter bangsa tentu akan dengan mudah anak-anak bangsa kehilangan karakternya. 

Karakter egois, individualis, pragmatis, hedonis, konsumtif hingga perilaku kriminal akan dengan mudah menyerang anak bangsa. “Contohnya anak-anak SMP Jogja yang melakukan tindakan klitih, mereka pasti tidak memiliki karakter bangsa”, papar Dra. Gusyanti, M.Pd.

Tari dapat menjadi media pengajaran karakter bagi peserta didik. Peserta didik dapat diajarkan untuk menciptakan sebuah tari sederhana baik dalam kegiatan ekstrakuler maupun dalam pelajaran kelas. Proses penciptaan ini dimulai dengan pencetusan ide, pendalaman gagasan, perwujudan gagasan dan komunikasi karya.

“Pencetusan ide dapat mengajarkan kemandirian bagi anak didik. Kemudian pendalaman gagasan akan membuat anak didik menjadi lebih kreatif, begitu juga dengan perwujudan gagasan”, jelas Dra. Gusyanti, M.Pd.

Selain itu, tari juga mengajarkan bekerja sama serta tanggung jawab. Menurut Dra. Gusyanti, M.Pd., tari merupakan sebuah seni yang kebanyakan dimainkan secara kelompok. 

“Kelompok akan mengajarkan anak didik pada nilai kerja sama untuk mencapai kesuksesan. Tari juga mengajarkan tanggung jawab, karena tari membutuhkan kekompakan. Sebuah tari tidak akan terlihat kompak ketika dari salah satu anggota memiliki sikap egois, begitu juga dengan sikap tanggung jawab,” jelasnya. |Syidiq S Ardlie|

back to top