Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Vietnam lebih unggul dari Indonesia dalam produktivitas

Vietnam lebih unggul dari Indonesia dalam produktivitas

Jogja-KoPi∣ Ketua Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta, Bambang Kristianto mengatakan grogi dalam menghadapi MEA ketika melihat data statistik ICOR Indonesia.

"Kalau melihat ICOR Jogja 5,4 yang sama dengan ICOR Indonesia jika dibanding ICOR Vietnam yang minus, justru membuat grogi dalam menghadapi MEA, tapi harus optimis bisa menghadapinya", jelas Bambang Kristianto.

ICOR sendiri merupakan rasio antara penambahan modal dengan penambahan pengeluaran. Ketika ICOR suatu negara masih tinggi menunjukkan bahwa masih kurang efektif produktivitas kerja dalam negara tersebut. Namun, ketika ICOR rendah, maka dapat dikatakan produktivitas kerja di negara tersebut efektif. DIY dan Indonesia yang memiliki nilai ICOR 5,4 menunjukan bahwa produktivitas kerja di Indonesia masih kurang efektif jika dibanding dengan Vietnam yang minus.

Berbicara tentang MEA tidak dapat dipisahkan dengan impor dan ekspor barang. Nilai impor barang DIY pada bulan Oktober 2015 meningkat sebesar 49,54 dibanding bulan September 2015. Apabila dibanding setahun lalu, Oktober 2014, nilai impor mengalami peningkatan sebesar 514,33%. Hal ini menunjukkan bahwa bertambahnya kebutuhan terhadap barang impor di Yogyakarta yang juga berakibat pada inflasi, yaitu sebesar 0,13% pada bulan November 2015.

Ekspor barang DIY justru memperlihatkan penurunan 7,05% dibanding bulan sebelumnya, dan turun 2,69% dibanding tahun lalu. Penurunan nilai ekspor ini disebabkan penurunan nilai ekspor di empat negara dari sepuluh negara tujuan, yaitu Amerika Serikat, Jerman, Australia dan Jepang.

Sedangkan nilai ekspor barang asal DIY ke kawasan ASEAN hanya sebesar US $ 1.234.693 atau turun 4,33% dibanding sebulan lalu. Hal ini dikarenakan terjadinya penurunan nilai ekspor di Singapura sebesar 39,14%.

Jika nilai impor terus meningkat serta ekspor yang turun terus menerus akan menjadikan DIY sebagai pasar yang besar bagi MEA dan menguntungkan negara lain. Produktivitas, keefektifan, dan kekreativitasan dalam membuat sebuah produk menjadi senjata yang kuat dalam menghadapi MEA, dan menekan angka impor barang serta meningkatkan ekspor barang.

“Produktivitas, efesiensi, dan kreativitas perlu ditingkatkan kembali, untuk menghadapi MEA dan mengalahkan produk-produk dari negara lain seperti produk buah-buahan dari Thailand dan Vietnam,” jelas Bambang Kristianto. |Frenda Yentin|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next