Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Tuna netra bisa asal diberi kesempatan...

Tuna netra bisa asal diberi kesempatan...

Jogjakarta-KoPi| Ketika koranopini.com masuk ke sekolahan Yaketunis (Yayasan Tuna Netra Islam) suasananya sepi. Semua ruangan kelas tertutup hanya ruang guru yang terbuka. Beberapa guru kelas di dalamnya sibuk mengerjakan tugas. Sementara guru yang lain tengah sibuk mengajar di kelas. Termasuk guru narasumber yang koranopini.com tunggu, masih mengajar B. Indonesia.

Sayup-sayup suara Siti Sa’adah terdengar dari luar ruang kelas. Wanita 40 tahun itu tengah asyik mengajar empat muridnya. Dia membacakan materi pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII. Sesekali suaranya bercampur dengan canda tawa dari muridnya. Ketika salah seorang murid perempuan menyela saat penjelasan materi pelajaran.

Suasana keakraban mengalir begitu hangat. Kehadiran Siti Sa’adah di tengah muridnya bak seoarang ibu sedang mengajarkan anak-anaknya. Dengan sabar dia membaca materi pelajaran berulang-ulang. Bila salah satu belum paham, dia jelaskan secara intensif.

“ Kuncinya mengajar itu kudu sabar,” jelas wanita sarjana konseling itu kepada koranopini.com.

Siti mengakui membutuhkan tenaga ekstra untuk mengajar anak-anak tuna netra. Sehari bisa mengajar 5-7 jam. Dengan rata-rata seminggu 31 jam. 

Selama 13 tahun Siti mengajar di Yaketunis. Siti yang juga seorang tuna netra menjalani profesinya sebagai wujud pengabdian.

Selama waktu yang terbilang lama tersebut, Siti telah mengalami banyak kendala. Namun Siti memandang kendala hal biasa yang bisa diselesaikan.

Dalam aspek anak, sebenarnya tidak ada perbedaan antara anak tuna netra dengan anak ‘awas’ yang bisa melihat normal. Perbedaan terletak pada model pembelajaran yang lebih intensif. Serta kelengkapan sarana dan alat peraga pembelajaran.

Seperti pelajaran biologi ada kesusahan bagi anak tuna netra. “ Kalau anak tuna netra, alat peraganya didikte, agak susah, yang penting anak mau belajar ya bisa,” papar wanita yang hobi membaca novel itu.

Namun Siti menyayangkan seringkali kendala anak tuna netra berkembang justru dari orang tuanya. Orang tua masih berpikiran klasik bahwa anak tuna netra tidak bisa apa-apa. Padahal kalau diberi kesempatan dan dukungan, anak tuna netra bisa berkembang.

“ Saya yang guru BK, bukan susah ngurusin anak-anak yang nakal, rook atau narkoba, tapi nasehatin orang tua yang itu ( kurang mendukung anaknya yang tuna netra untuk bisa sekolah,” pungkas Siti.

|Winda Efanur FS|Frenda Yentin|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next