Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Terlalu lama terima pengungsi Rohingya bisa jadi beban untuk Indonesia

Terlalu lama terima pengungsi Rohingya bisa jadi beban untuk Indonesia
Surabaya - KoPi | Pengawas Khusus PBB untuk Palestina Makarim Wibisono menyatakan, meski saat ini Indonesia menerima pengungsi Rohingya atas dasar kemanusiaan, pemerintah diminta segera menyelesaikan  permasalahan ini dan mengembalikannya pada forum ASEAN. Alasannya, banyak implikasi yang timbul jika suatu negara menerima pengungsi asing. Negara tersebut berkewajiban memberi makan dan menyediakan tempat tinggal.
 

"Saat ini Indonesia masih mau menerima, tapi tidak tahu sampai kapan. Seberapa lama Indonesia mampu menampung pengungsi ROhingya ini? Wong di Indonesia sendiri juga masih banyak yang kelaparan," tukas Makarim.

Akar masalah ini sendiri ada di sejarah etnis Rohingya di Myanmar. Selama akar masalah tersebut tidak diselesaikan, etnis Rohingya tidak akan mendapat tempat di muka bumi ini.

"Saat ini sudah ada lebih dari 120 ribu warga etnis Rohingya yang mengungsi ke negara-negara sekitar. Mereka tak punya status legal, tak punya pekerjaan, dan harus bergantung pada negara yang mau menerima mereka. Ini beban bagi negara yang menerima mereka," ungkap Makarim.

Makarim mengakui ASEAN tidak bisa serta merta menekan Myanmar, karena ada negara-negara ASEAN menandatangani non-aggresion pact, sehingga sesama negara anggota tidak bisa mengintervensi masalah dalam negeri anggota lain.

"Karena itu perlu diselesaikan akar permasalahannya, yaitu bagaimana agar mereka bisa diterima oleh negara mereka. Bukan sekedar pengembalian ke Myanmar, tapi agar etnis Rohingya tidak lagi mengalami diskriminasi," lanjut Makarim.

Saat ini warga Rohingya sendiri mengalami dilema. Mereka tidak diakui sebagai warga negara oleh Myanmar karena dianggap sebagai pendatang ilegal dari Bangladesh. Namun etnis Rohingya sendiri juga tidak bisa kembali ke Bangladesh karena sudah ratusan tahun meninggalkan negara itu.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next