Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Temu Tokoh Nasional: Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan untuk Kemandirian Bangsa

Temu Tokoh Nasional: Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan untuk Kemandirian Bangsa

Jogja-KoPi| Temu Tokoh Nasional menjadi salah satu rangkaian kegiatan Muktamar yang berlangsung pada (25/8) di Islamic Centre, Universitas Ahmad Dahlan. Temu Tokoh kali ini menghadirkan dua tokoh nasional, yaitu Prof. Dr. Amien Rais, MA dan Rahmawati Husein, Ph,D.

Menurut Normasari, M.Hum, Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Temu Tokoh Nasional sengaja diadakan untuk mencari inspirasi sebagai bekal mensukseskan agenda Muktamar Nasyiatul Aisyiyah yang akan menentukan agenda-agenda penting gerakan Nasyiatul Aisyiyah 1 periode ke depan.

Dalam forum Temu Tokoh tersebut, Amien Rais menegaskan bahwa Islam telah jauh lebih dahulu bicara tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Banyak perempuan telah menjadi pemimpin, bahkan dalam skala pemerintahan, Amien mencontohkan, Pakistan, Turki, juga Indonesia telah memilih perempuan sebagai Presiden.

Di Muhammadiyah sendiri, tandas Amien Rais, tidak ada diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Menyinggung tentang Nasyiatul Aisyiyah sebagai gerakan perempuan muda berkemajuan, tokoh reformasi yang juga Ketua MPR Periode 1998-2004 ini kemudian menggarisbawahi pentingnya penguasaan ilmu dan teknologi, “Kompetisi mendatang adalah kompetisi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), bangsa yang maju adalah bangsa yang menguasai iptek, dan bangsa yang tidak menguasai iptek akan menjadi bangsa terbelakang.”

Selain Amien Rais, hadir pula Rahmawati Husein, Ph.D, yang saat ini menjadi unsur pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Periode 2000-2004 ini, juga merupakan peraih penghargaan Tokoh Inspiratif ‘Tangguh Award’ Tahun 2015 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, yaitu penghargaan yang diberikan bagi orang maupun lembaga yang peduli pada penanganan bencana.

Di awal pembicaraan, ia menegaskan, “Saya besar dan berkemajuan karena Nasyiatul Aisyiyah.” Oleh karenanya perempuan yang pernah menjadi komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan hingga tahun 2006 ini, mendorong kader-kader Nasyiah untuk menempa diri di Nasyiatul Aisyiyah.

Menurut Rachmawati Husein, gerakan perempuan muda berkemajuan yang melekat sebagai identitas Nasyiatul Aisyiyah ini mensyaratkan beberapa hal, “pentingnya kader Nasyiatul Aisyiyah peka terhadap isu-isu yang berkembang dan berinovasi dengan ilmu dan teknologi.” Rachmawati menyebut beberapa, isu lingkungan termasuk tambang yang berdampak pada perempuan, juga Sustainibility Development Goals sebagai komitmen global terhadap kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs).

Muktamar ini, ungkap Rachmawati, dapat menjadi momen strategis bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk menguatkan diri sebagai organisasi berkemajuan. Ia menyebut beberapa modal berkemajuan, tafsir baru gerakan pengembangan nilai Islam untuk peradaban, gerakan yang dinamis dan responsif juga memberdayakan, cara berfikir yang bersifat outward looking, percaya diri dan mau maju.

Selain itu, Rachmawati menegaskan pentingnya berjejaring sebagaimana tersebut juga dalam poin tujuan SDGs,“Nasyiatul Aisyiyah harus berjejaring dengan organisasi lain dalam skala local, nasional hingga global.” Dengan begitu, ia berharap, Nasyiatul Aisiyiyah dapat membuktikan bukan sebagai organisasi yang diperuntukkan bagi dirinya saja, tapi juga bagi segmen yang lebih luas.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next