Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Tambak udang, dari tanah SG sampai kerusakan lingkungan

Tambak udang, dari tanah SG sampai kerusakan lingkungan

Bantul-KoPi| Pemkab Bantul dan Dinas Perikanan dan Kelautan DIY tengah menggodok konsep relokasi tambak udang ke wilayah Wonoroto, Gading sari, Sanden dan Dusun Ngetep, Srigading, Sanden. Luasan ke dua wilayah relokasi masing-masing 45 HA.

Sebelumnya keberadaan tambak udang milik masyarakat di pantai selatan selalu dilemahkan keberadannya. Sejak November 2014 lalu Pemkab Bantul menuntut dengan banyak dalih mulai dari ilegal karena memakai tanah Sultan Ground (SG) hingga isu kerusakan lingkungan.

Menurut kepala bidang perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan DIY Suwarman Partosuwiryo mengakui sejak November tahun 2014 lalu memang ada wacana untuk menutup tambak yang ilegal.

“ Sejak November 2014 lalu kita koordinasi dengan Pemkab Bantul, untuk menutup tambak tapi karena banyak yang ramai, akhirnya kita koordinasikan kaitannya dengan ditata sesuai dengan lokasi dan zonanya”, papar Suwarman.

Keputusan untuk mengelola keberadaan tambak udang ini disambut baik oleh aktivis lingkungan hidup Aji Kusumo. Menurutnya tidak sepantasnya pemerintah menutup usaha ekonomi masyarakat.

Aji yang memantau kasus tambak udang sejak awal (November tahu lalu) selalu menyuarakan win-win soution ke kedua belah pihak. Jangan sampai usaha ekonomi masyarakat mati karena adiministrasi pemerintahan.

“Awalnya isu yang dikatakan tentang penggunaan tanah SG tanpa ijin, sekarang isu lingkungan pencemaran, kalau saya harusnya tambak masyarakat ini jangan ditutup tapi ditata, dikelola dengan baik”, tegas Aji. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next