Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Soal disabilitas, tidak sinkron antara pusat dengan daerah

Audiensi Komite Disabilitas Kota Jogja ke Dinas Pendidikan Kota Jogja Audiensi Komite Disabilitas Kota Jogja ke Dinas Pendidikan Kota Jogja

Jogjakarta-KoPi| Koordinator Forum Penguatan Disabilitas kota, Arni Surwanti menilai ada ketidaksinkronan antara pemerintah pusat dengan daerah terkait pendidikan inklusi.

Program sekolah inklusi di tingkat daerah belum optimal. Beberapa sekolah inklusi di kota Jogja belum sepenuhnya memiliki sarana dan prasarana yang mendukung penyandang disabilitas.

"Tanggung jawab menerima disabilitas pada semua sekolah dengan sistem integrasi sesuai kondisi sekolah yang ada," kata Arni saat penyampaian audiensi di Kantor Dinas Pendidikan Kota pada 15 Februari 2016.

Seperti yang diungkapkan Anggota Komite Disabilitas Kota, Nuning menambahkan sarana dan prasarana belum mendukung tuna rungu.
Penerapan metode belajar di sekolah informal memiliki keterbatasan guru pendamping atau interpreter.

Anggota Komite Disabilitas, Andi menambahkan siswa tuna rungu kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah formal maupun. Pasalnya metode belajar normal. Mereka hanya memahami dari tulisan di papan tulis.

Andi mengharapkan sekolah memfasilitasi interpreter yang kompeten. Guru pendamping atau interpreter menjelaskan materi dengan bahasa isyarat.
"Dengan motode pembelajaran yang biasa mereka tertinggal, materi untuk tuna rungu itu berbeda," papar Andi.

Penyandang tuna rungu memiliki identitas dan budaya yang berbeda.
"Penjelasan materi pelajaran dengan bahasa isyarat meningkatkan kemampuan tuna rungu memahami materi pelajaran," pungkas Andi. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next