Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Skripsi opsional, turunkan produksi ilmiah Indonesia ?

Skripsi opsional, turunkan produksi ilmiah Indonesia ?

Jogjakarta-KoPi| “Dirjen Dikti saja baru minta skripsi harus diupload, terus Pak Mentri (Menristek) saat ini sedang gelisah karena karya ilmiah Indonesia jauh di bawah negara ASEAN kayak Malaysia, Singapura, nah kalau dia menginnginkan karya ilmiah jumlahnya bertambah harus ada banyak karya ilmiah, nah ini malah bertolak belakang dengan pernyataan skripsi ini”, papar Koordinator Kopertis V Jogjakarta, Bambang Supriyadi.

Bambang menambahkan dalam Rembugnas sekitar bulan April 2015 lalu Menristek mengeluh rendahnya produk ilmiah Indonesia. Menristek Muh. Nasir mengharapkan naiknya jurnal ilmiah Indonesia. Nah, adanya skripsi sebagai latian dasar mahasiswa untuk memtangkan kemampuan ilmiahnya. Sementara menempatkan skripsi sebagai opsional justru seolah menihilkan karya ilmiah.

Namun bersilang pendapat dengan Bambang, dosen Fisipol UGM Abdul Ghaffar Karim mengganggap kebijakan opsional skripsi ini tidak menurunkan produksi karya ilmiah. Pasalya keadaannya sekarang justru seperti over supply skripsi. Sementara yang perlu didorong adalah karya ilmiah dosen.

Menurut catatan dari Scopus (www.sciencedirect.com) per 9 Februari 2012 menunjukan publikasi karya ilmiah di Indonesia tertinggal dibanding negara ASEAN lainnya. Publikasi tertinggi dari ITB hanya mencatatkan angka 2.029 publikasi.

Meskipun mampu mengungguli Vietnam, Brunei, Laos, dan Myanmar akan tetapi prestasi Indonesia masih jauh tertinggal dari negara tetangga seperti University of Malaya, Malaysia yang mampu mencatat jumlah publikasi sebanyak 16.027 publikasi. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next