Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Skripsi opsional, turunkan produksi ilmiah Indonesia ?

Skripsi opsional, turunkan produksi ilmiah Indonesia ?

Jogjakarta-KoPi| “Dirjen Dikti saja baru minta skripsi harus diupload, terus Pak Mentri (Menristek) saat ini sedang gelisah karena karya ilmiah Indonesia jauh di bawah negara ASEAN kayak Malaysia, Singapura, nah kalau dia menginnginkan karya ilmiah jumlahnya bertambah harus ada banyak karya ilmiah, nah ini malah bertolak belakang dengan pernyataan skripsi ini”, papar Koordinator Kopertis V Jogjakarta, Bambang Supriyadi.

Bambang menambahkan dalam Rembugnas sekitar bulan April 2015 lalu Menristek mengeluh rendahnya produk ilmiah Indonesia. Menristek Muh. Nasir mengharapkan naiknya jurnal ilmiah Indonesia. Nah, adanya skripsi sebagai latian dasar mahasiswa untuk memtangkan kemampuan ilmiahnya. Sementara menempatkan skripsi sebagai opsional justru seolah menihilkan karya ilmiah.

Namun bersilang pendapat dengan Bambang, dosen Fisipol UGM Abdul Ghaffar Karim mengganggap kebijakan opsional skripsi ini tidak menurunkan produksi karya ilmiah. Pasalya keadaannya sekarang justru seperti over supply skripsi. Sementara yang perlu didorong adalah karya ilmiah dosen.

Menurut catatan dari Scopus (www.sciencedirect.com) per 9 Februari 2012 menunjukan publikasi karya ilmiah di Indonesia tertinggal dibanding negara ASEAN lainnya. Publikasi tertinggi dari ITB hanya mencatatkan angka 2.029 publikasi.

Meskipun mampu mengungguli Vietnam, Brunei, Laos, dan Myanmar akan tetapi prestasi Indonesia masih jauh tertinggal dari negara tetangga seperti University of Malaya, Malaysia yang mampu mencatat jumlah publikasi sebanyak 16.027 publikasi. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next