Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Revisi UU KPK DPR upaya melemahkan KPK

Revisi UU KPK DPR upaya melemahkan KPK

KoPi-Jogja│ DPR tidak henti-hentinya melemahkan KPK, pelemahan dilakukan dengan berbagai cara termasuk melaui revisi UU KPK serta menggunakan wacana hak angket dalam pengusutan kasus korupsi E-KTP.

"Sosialisai revisi UU KPK sedang dilakukan DPR di lima kampus yang ada di Indonesia, termasuk UGM. Artinya DPR serius melihat reaksi publik, apakah masih menginginkan KPK atau kah tidak," kata Zaenur Rohman, peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi UGM pada conference pers yang dilakukan di Pusat Kajian Anti Korupsi UGM, Selasa (21/3).

Di sisi lain, revisi UU KPK nampaknya hanya digunakan sebagai serangan untuk melemahkan KPK. Pasalnya revisi tersebut tidak memiliki urgensi yang jelas. UU dapat direvisi apabila suatu regulasi tersebut inskontitusional atau bertentangan dengan UUD RI 1945, sesuai dengan kehendak publik, dan karena kebutuhan internal lembaga.

"Padahal, belum ada satupun putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa UU KPK inskontitusional. Kemudian, publik justru merasa revisi UU KPK akan melemahkan KPK, dibuktikan dengan banyaknya gelombang aspirasi penolakan RUU KPK di masyarakat dan dukungan KPK," jelas Hifdzil Alim, peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi UGM.

Kemudian, Hifdzil Alim juga menjelaskan bahwa KPK selaku lembaga yang menjadi objek dalam revisi malah menganggap UU Nomor 30 tahun 2002 masih memiliki taji untuk memberantas korupsi, dan masih menyediakan kewenangan bagi KPK untuk mengusut kasus-kasus besar, termasuk E-KTP.

Revisi UU KPK sendiri berisi tentang munculnya dewan pengawas pada KPK, penyadapan yang dapat dilakukan setelah terdapat barang bukti permulaan yang cukup, serta penyidik yang tidak dapat secara mandiri diangkat. Munculnya dewan pengawas dapat diartikan bahwa penyadapan dan penyitaan harus melalui mekanisme ijin dewan pengawas.

Sedangkan, di sisi lain hal ini menjadi resistant karena dewan pengawas dapat dijadikan alat penguasa untuk melakukan intervensi. "Ini dikarenakan dewan pengawas dipilih dan diangkat oleh presiden. Padahal KPK adalah badan independent yang bertugas mengawasi. Tapi ini KPK malah diawasi oleh eksekutif, mana ada orang yang mengawasi kemudian diawasi," jelas Zaenur Rohman.

Selanjutnya, penyadapan yang baru dapat dilakukan setelah terdapat barang bukti permulaan yang cukup, menurut Zaenur Rohman adalah hal yang menggelikan. "Mau mencari alat bukti kok harus pakai alat bukti, ini adalah bentuk serangan untuk melemahkan KPK", ucapnya.

Tidak hanya itu, upaya DPR untuk melemahkan KPK juga ditujukkan dengan wacana hak angket dalam pengusutan kasus korupsi E-KTP. Walaupun hak angket adalah konstitusional, sangat tidak tepat jika ditujukkan kepada KPK yang mengusut kasus korupsi E-KTP.

Usulan hak angket akan mempengaruhi penegakan hukum yang dilakukan KPK. "Hak angket DPR salah alamat, harusnya tidak ditujukan pada KPK yang sedang manangani kasus E-KTP, sebab akan mengganggu proses penegakkan hukum," jelas Zaenur Rohman.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next