Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

PWNU Jogja: Perubahan gelar sultan pengingkaran amanat leluhur

PWNU Jogja: Perubahan gelar sultan pengingkaran amanat leluhur

Jogjakarta-KoPi| Sabda raja yang disampaikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 30 April 2015 dan penjelasannya tanggal 8 Mei 2015 telah menyulut kontrovesi di kalangan masyarakat sekaligus menghawatirkan masa depan keistimewaan Jogjakarta ke depan.

Perubahan gelar sultan tersebut mengagetkan kalangan NU Jogja, secara pribadi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) menyatakan sikap terhadap perubahan gelar sultan.

PWNU Jogja menyampaikan sembilan sikap di antaranya menyoal kasultanan bagian dari pengabdian kepada Allah swt. Adanya perubahan gelar sultan, PWNU Jogja menganggap telah menggganggu kemaslahatan masyarakat.

“PWNU memandang Kasultanan bukanlah semata institusi politik dan ekonomi melainkan sarana mengabdi kepada Allah SWT secara tulus dalam menjaga keamanan, ketentraman, kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat”, kata Wakil Khatib, Dr. Kyai Hilmy Muhammad MA pada jumpa pers di gedung PWNU Jogja pukul 10.00 WIB.

Sultan telah mengubah gelarnya dari “Ngarso Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senapati Ing Ngalogo Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama Kalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa ing Ngayogyokarto Hadiningrat” menjadi Ngarso Dalem Sampean Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram, Senopati Ing Ngalogo, Langgeng Ing Bawono Langgeng, Langgeng Ing Toto Panotogomo.

Menurut PW NU Jogja penggantian gelar telah menghianati amanat leluhur. “Gelar sultan sesungguhnya amanat leluhur. Ia memuat makna, filosofi, bahkan teologi yang merupakan manifestasi nilai-nilai yang dikandungnya."

“Konsep-konsep penting di dalam gelar seperti Ngabdurrahman, Sayyidin Panotogomo, Kalifatullah, mengandung amanat dan sultan haruslah mewujudkan pengabdiannya yang tulus kepada Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang menjaga keseimbangan alam, relijiusitas masyarakat”, papar Kyai Hilmy Muhammad. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next