Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

PT KAI bantah ada aplikasi khusus agen

PT KAI bantah ada aplikasi khusus agen
Surabaya – KoPi | Manager Humas PT KAI Daop 8 Surabaya Sumarsono menampik dugaan adanya keistimewaan yang didapat oleh agen online ticketing. Ia menyatakan meskipun PT KAI bekerjasama dengan pihak ketiga untuk pemesanan tiket, mereka tidak mendapat jalur khusus.
 

“Agen online ticketing seperti Indomart, Alfamart, Paditrain, tiket.com, semuanya juga lewat jalur yang sama seperti penumpang kereta lain,” jelas Sumarsono.

Sumarsono juga menampik PT KAI memberikan aplikasi khusus yang membuat agen mampu memesan tiket sejak H-91 serta dalam jumlah banyak. Menurutnya, para agen mempekerjakan orang-orang untuk berburu tiket. 

“Sama saja seperti orang lain, hanya mereka mampu pesan tiket lebih banyak karena mereka menggunakan tenaga yang lebih banyak. Tidak hanya 1-2 orang saja yang menghadap komputer untuk berburu tiket, tapi bisa puluhan,” katanya.

“Kami tidak berani main-main. Tidak ada yang namanya aplikasi khusus buat agen. Semuanya serba transparan,” lanjut Sumarsono lagi.

Sumarsono bercerita ketika Jonan masih menjabat sebagai Direktur PT KAI, ia pernah mengajak YLKI dan wartawan untuk melihat bagaimana proses pemesanan tiket. Pada akhirnya YLKI menerima bahwa sistem yang digunakan PT KAI transparan dan menutup kemungkinan adanya calo.

“Memang para agen ini mendapat ijin dari PT KAI untuk menjadi perantara pemesanan tiket. Bedanya mereka mendapat ijin untuk menarik biaya administrasi saja,” kata Sumarsono.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next