Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Psikolog: "Pelaku eksibisionisme punya rasa inferior"

Psikolog: "Pelaku eksibisionisme punya rasa inferior"
Surabaya-KoPi| Perilaku seksual menyimpang adalah tindakan mencapai kepuasan seksual melalui cara-cara yang tidak sesuai dengan kesepakatan sosial. Menurut dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Margaretha, secara psikologis pelaku penyimpangan seksual sebenarnya adalah orang yang tidak mampu membangun relasi intim dengan seseorang.
 

Yang namanya hubungan seksual perlu membangun sebuah relasi, dan hal itu membutuhkan skill seperti kemampuan berkomunikasi, negosiasi, menyelesaikan konflik, dan seterusnya. Kegagalan membangun relasi intim menyebabkan pelaku penyimpangan seksual sulit memenuhi kebutuhan seksual secara sehat dan tepat.

"Hal itu bisa disebabkan karena ketidakpercayaan diri, inferioritas, kurangnya kemampuan membangun hubungan yang mendalam, trauma, atau masalah eksternal lain. Karena itu, ia hanya dapat mencapai kepuasan seksual dengan cara-cara yang menyimpang," tutur Margaretha.

Eksibisionis merupakan salah satu perilaku seksual menyimpang di mana pelakunya memamerkan atau mengekspos alat kelaminnya. Ia mendapat kepuasan seksual jika melihat korbannya terkejut. 

"Jadi pelakunya dapat mencapai klimaks hanya dengan melihat reaksi terkejut orang lain. Ia tidak perlu bersentuhan. Karena ini adalah penyimpangan, tentu saja caranya salah berdasarkan norma sosial, dan cenderung menjadi pelanggaran hukum, terutama unsur kesusilaan," jelas Margaretha.

Ada banyak perbagai perilaku menyimpang seksual selain eksibisionisme. Perilaku tersebut antara lain pedophilia (melakukan hubungan seksual dengan anak di bawah umur), fetisisme (dengan benda mati), necrophilia (dengan jenazah), sadisme (mencapai kepuasan seksual dengan menyakiti atau merendahkan pasangan), masokisme (mencapai kepuasan seksual dengan cara disakiti atau direndahkan), dan masih banyak lagi.

Apa mungkin eksibisionis bisa berubah menjadi pemerkosa? Margaretha mengatakan selama ini ia tidak pernah menemukan literatur yang menyebutkan demikiian. Eksibisionisme dan pemerkosaan adalah dua perilaku yang berbeda. Pemerkosaan membutuhkan agresi dan membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi untuk mendominasi korban. Sebaliknya eksibisionis biasanya dilakukan orang yang merasa dirinya inferior atau tidak percaya diri.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next