Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pertalite Pertamina, upaya halus kapitaslisasi BBM ?

Pertalite Pertamina, upaya halus kapitaslisasi BBM ?

Jogjakarta-KoPi| Sekitar Mei 2015 Pertamina berencana meluncurkan varian bahan bakar baru, Pertalite.  Dilihat dari unsurnya Pertalite memiliki angka oktan 90 (RON 90) berbeda dengan Premium yang memiliki angka oktan sebesar 88 (RON 88).

Menurut peneliti PSE (Pusat Studi Energi) UGM Prof. Arif Budiman Peluncuran Pertalite ini secara tidak langsung memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan harga baru. Pasalnya level Pertalite lebih tinggi daripada Premium saat ini.

“Sebenarnya kalau harga ini Pertamina punya rumus harga. Bisa dihitung dari biaya produksi, ditambah pertamina mau ambil harga berapa. Berbeda dengan pertamax yang mengikuti harga pasar “, paparnya.

Prof. Arif juga mengakui adanya Pertalite ini kemungkinan suatu bentuk pengalihan dari Premium. Premium dengan subsidi sekarang Rp 7.600, sedangkan pertamax tanpa subsidi Rp 8.600.

“Bisa jadi ini pengalihan dari Premium ke Pertamax jadi kira-kira harganya di antara mereka untuk perlahan mengalihkan ke Pertamax masyarakat digiring ke sana, untuk melepas subsidi”, kata Prof. Arif.

Sementara ini pasaran minyak semakin kompetitif. Di Jakarta saja sudah banyak berdiri SPBU asing seperti Petronas. Petronas harganya lebih mahal daripada pertamina. Tetapi tidak menutup kemungkinan ketika pemerintah melepas subsidi BBM, Pertamina tidak bisa bersaing.

"Namanya globaslisasi, harapan mereka ingin berbisnis di Indonesia, seperti Petronas atau Shael, tapi karena di Indoenesia lebih murah (subsidi) mereka gak laku, ini lebih ke kompromi ke pemerintah juga", pungkas Prof. Arif

|Roihatul Firdaus, Winda Efanur FS|



back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next