Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pemerintah belum berikan dukungan pada orkes simphony di Indonesia

Pemerintah belum berikan dukungan pada orkes simphony di Indonesia

Jogja-KoPi| Pemerintah belum memberikan dukungan untuk mengembangkan orkes simphony di Indonesia, dikarenakan bagian dari musik barat.

Addie MS, pendiri Twilite Orchestra sekaligus konduktor orkes simphony di Indonesia mengatakan pemerintah belum memberikan dukungan untuk mengembangkan orkes simphony di Indonesia. Padahal Indonesia memiliki talen-talen berbakat yang dapat dikembangkan dalam pertunjukkan orkes simphony.

“Kita punya talen hebat-hebat kok orang Indonesia, kita datengin guru-guru pengajar, pasti akan meningkat. Kita banyak bakat-bakat yan luar biasa tapi mau berkembang kendala dana, pengajar, instrumenya aduh menyedihkan bandet. Kalau di luar banyak yang membantu buat instrumen, kita jauh sekali”, jelasnya saat diwawancarai setelah Jumpa Pers Grand Concert Gadjah Madha Chamber OrchestraVol 6 di Hotel Hyaat Yogyakarta, Kamis (4/5).

Pemerintah saat ini belum memberikan dukungan sama sekali untuk orkes simphony, padahal orkes simphony dapat menjadi ikonik bagi Indonesia.

“Padahal kegiatan musik simphony adalah kegiatan yang amat mahal dibandingkan seni lain. Bayangkan harus ada 50 musisi, ada yang 30 tapi rata-rata 50, dengan menggunakan instrument yang tidak murah dan pendidikan yang tinggi, mereka layak mendapatkan fee yang tinggi sehingga itu menjadi ikon”, jelas Addie.

Ia juga menuturkan jika di luar negeri seperti di Singapura, Malaysia, Amerika, Eropa, Jepang, umumnya orkes simphony didukung oleh pemerintah dan jika tidak ada dukungan maka tidak akan bisa berkembang.

Indonesia tidak akan bisa menyamai negara-negara maju lainnya dalam orkes simphony jika pemerintah tidak memberikan dukungan.

“Kalau di Indonesia bantuan dari pemerintah tidak ada, gedung tidak ada, kemudian jauh lebih sulit. Kesulitannya lebih sulit dibandingkan Singapura”, tambahnya.

Addie sendiri selalu berusaha untuk menyakinkan pemerintah, namun hingga saat ini belum ada dukungan dari pemerintah dengan alasan orkes symphony berasal dari barat.

“Alasannya musik barat, padahal itu tidak dipertanyakan oleh Cina, Singapura, Venezuele, Irak, Palestina. Pasti alasannya barat dan kita punya budaya lokal seperti Karawitan”, jelasnya.

Addie berharap pemerintah dapat memberikan sarana, fasilitas, dana, serta bantuan instrument bagi perkembangan orkes simphony di Indoenesia, mengingat banyaknya bakat dan manfaat yang bisa diambil dari orkes simphony.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next