Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Panglima TNI: Indonesia akan jadi medan konflik perang pangan di masa depan

Panglima TNI: Indonesia akan jadi medan konflik perang pangan di masa depan
Surabaya - KoPi | Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmanto memprediksi di masa depan kawasan Timur Tengah tak lagi menjadi arena konflik. Namun, konflik akan bergeser dan Indonesia akan menjadi ladang konflik baru seperti halnya di kawasan Arab.
 

Hal tersebut dikatakan Gatot saat menjadi pembicara dalam Kuliah Umum Jati Diri Kebangsaan di Universitas Airlangga. Menurutnya, kondisi dunia saat ini sudah berada di ambang konflik baru. 

Prediksi Gatot tersebut dijabarkan dalam disertasinya, berupa teori pergeseran latar belakang konflik dan lokasi konflik di dunia. Argumennya didasarkan pada Teori Malthus, yang menyatakan jumlah penduduk meningkat seperti deret ukur, sedangkan jumlah bahan makanan meningkat seperti deret hitung. 

"Pertumbuhan penduduk dunia saat ini mencapai 1 miliar jiwa per 12 tahun, dan diperkirakan akan meningkat menjadi 1 miliar jiwa per 6 tahun. Efeknya, dunia akan kekurangan bahan makanan," cetus Gatot.

Di sisi lain, cadangan minyak dunia saat ini sudah semakin menipis. Menurut data tahun 2011, sisa cadangan minyak dunia saat ini hanya cukup untuk 45 tahun, namun konsumsi energi meningkat 41 persen. Karena itu, diperkirakan minyak dunia akan habis pada tahun 2043.

"Krisis tersebut akan mendorong penelitian dan pengembangan besar-besaran atas energi alternatif seperti biodiesel. Padahal, biodiesel dibuat dari tanaman pangan, sehingga kebutuhan akan tanaman pangan semakin meningkat," ujar lulusan AKABRI tahun 1982 itu.

Saat ini minimal 70 persen konflik dunia berlatarbelakang energi. Negara penghasil minyak seperti Nigeria, Sudan, Iran, Irak, Ukraina, Libya, Mesir, dan Kongo menjadi pusat konflik. Menurut Gatot, di masa mendatang, hal yang sama akan terjadi pada negara-negara di wilayah khatulistiwa.

Wilayah ekuator atau khatulistiwa dikenal karena sangat subur, sehingga sangat berpotensi untuk menumbuhkan tanaman pangan sepanjang thn. Potensi tersebut akan menjadikan negara-negara ekuator sebagai wilayah konflik karena merupakan penghasil energi alternatif.

"Di masa depan, 9,8 miliar jiwa di daerah non-ekuator akan mencari sumber pangan, air dan energi di wilayah khatulistiwa. Perang energi dunia jadi perang pangan, dan wilayah konflik akan bergeser dari wilayah Arab ke wilayah ekuator. Ini ancaman nyata bagi Indonesia ke depan," tukas Gatot.

Gatot mengungkapkan, dengan potensi konflik di masa mendatang, bangsa Indonesia harus kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Indonesia memiliki dua modal besar, yaitu modal geografis dan demografis. Modal geografis artinya potensi kekayaan alam Indonesia harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sedangkan modal demografis berarti memperkuat nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal untuk bertahan menghadapi ancaman.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next