Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Obat kangen, Disbud gelar pasar keroncong Kotagede 2015

Obat kangen, Disbud gelar pasar keroncong Kotagede 2015

Jogjakarta-KoPi| Mengobati kerinduan musik keroncong, Dinas Kebudayaan DIY bekerjasama dengan kelompok keroncong akan menggelar Pasar Keroncong Kotagede 2015. Acara ini akan digelar pada hari Sabtu (12/12), di Seputaran Pasar Kotagede.

Keroncong merupakan salah satu musik nusantara yang memiliki kekhasan pada alat musiknya, yaitu cuk dan cak. Cuk dan cak inilah yang menjadi inti dari permainan musik ini.

Menurut akademisi musik keroncong, Prof. Dr. Victor Ganap Keroncong berasal dari Musik Portugis “fedo” yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga di abad ke-16. Dalam perkembangannya unsur tradisional Indonesia ikut serta dalam membentuk keroncong di Indonesia.

Hal ini mengakibatkan keroncong memiliki keunikan dibandingkan musik lain. Namun, musik keroncong kian tenggelam dalam perkembangan zaman, sehingga membuat para seniman musik keroncong harap-harap cemas terhadap perkembangan musik keroncong nantinya.

Pasar keroncong Kotagede mencoba untuk mengingat kembali dan melestarikan musik keroncong di Yogyakarta. Kotagede dipilih sebagai tempat berlangsungnya acara karena terdapat banyak grup keroncong yang masih eksis hingga sekarang.

Pasar Keroncong akan serentak digelar di tiga panggung, panggung Loring Pasar, Panggung Sayangan, dan Pasar Sopingen dengan menampilkan 16 Orkes Keroncong.

Menurut musisi Djaduk Ferianto, salah seorang pencetus Pasar Keroncong Kotagede, acara ini akan menampilkan keroncong mainstream dan keroncong kontemporer yang telah mengalami modernisasi. Sesuai dengan namanya, pentas kali ini berkonsep sebuah pasar di mana banyak jenis langgam keroncong yang ditampilkan, sehingga penonton bisa leluasa memilih yang disukainya, bahkan penonton akan diberi keluasaan untuk berinteraksi.

“Acara ini diharapkan menjadi sebuah awal dari pelestarian keroncong yang berkelanjutan, sehingga Kotagede akan menjadi pusat musik keroncong seperti New Orleans yang menjadi pusat musik Jazz,”jelas Djaduk Ferianto. |Frenda Yentin|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next