Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Musni Umar: Ahok ditargetkan jadi presiden

Musni Umar: Ahok ditargetkan jadi presiden

Jogja-KoPi│ “Target Ahok bukan jadi Gubernur, jadi Presiden”, jelas Dr. Musni Umar, S.H., M.Si.,Ph.D., Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta dalam Seminar Nasional Aksi Damai 212, bertempat di University Club UGM, Sabtu (14/1).

Pakar Sosiologi ini menjelaskan bahwa sebagai politisi seseorang pasti memiliki target yang tinggi, apalagi dengan adanya dukungan dari partai politik, pemilik modal, serta pihak-pihak lainnya. Dukungan-dukungan yang dilakukan tersebut sebenarnya bertujuan untuk mengamankan kemapanan serta eksistensi dari pihak-pihak tersebut.

“Sebagai politisi orang kan targetnya tinggi, kalau berdasarkan berbagai sumber tidak hanya ditargetkan sebagai gubernur tetapi menjadi presiden, tentu juga dari para pendukungnya pemilik modal juga menginginkan begitu. Mereka yang memiliki modal menginginkan lebih mapan, lebih eksis, lebih menjamin masa depan kekayaan mereka,” paparnya.

Sedangkan,di kalangan gereja sendiri pencalonan Ahok sebagai wakil presiden sudah lama dikampanyekan.

Menurut pengamatannya alasan kemapanan, eksistensi dan jaminan akan kekayaan menjadi alasan dari berbagai pemilik modal untuk mendukung Ahok menjadi wakil presiden yang diramalkan akan mendampingi Jokowi di Pemilu Presiden selanjutnya.

“Orang mengupayakan pasti Jokowi menjadi presiden kembali, kemudian orang berjuang siapa yang mendampingi Jokowi. Yang selama dua tahun mereka bersama-sama mendampingi adalah Ahok, tentu wajar jika Ahok berjuang berusaha menjadi calon wakil presiden, Jokowi presidennya,” jelas Dr. Musni Umar, S.H., M.Si.,Ph.D.

“Tentu sangat wajar dalam dunia politik, ekspektasi orang harapan orang yang tinggi,” tambahnya.

Namun, di sisi lain, kasus penistaan agama menjadi sandungan dan halangan bagi Ahok untuk melaju menjadi wakil Presiden di pemilu selanjutnya. Hal ini menjadi tantangan sendiri bagi pengusung Ahok. Mereka berjuang agar Ahok tidak terhukum dan menjadi Gubernur DKI. Namun, menurut Dr. Musni Umar, S.H., M.Si.,Ph.D kesempatan Ahok memenangkan pilgub DKI dan kemudian menjadi Gubernur DKI adalah sebuah keajaiban.

“Ahok akan memenangkan pilgub jika hanya terjadi sebuah keajaiban. Pendukung ahok banyak yang sudah terdegradasi sekarang, banyak yang melihat hanya di media saja dia tegas praktiknya tidak. Kasus ini membuat Ahok semakin besar di media, namun belum tentu terpilih”, ujarnya.

Ketika masyarakat mampu mengawal kasus penistaan agama serta terus memperjuangkan keadilan maka tujuan Ahok menjadi wakil presiden yang hanya menguntungkan pihak-pihak yang kuat dan tinggi tersebut akan gagal. Masyarakat perlu kesadaran bahwa sekarang berada dalam pertarungan yang dahsyat.

“Masyarakat harus terus berjuang, tidak boleh pasif. Jika pasif maka hukum ini semakin akan memihak pada mereka yang kuat. Masyarakat dengan menggunakan media sosial, dengan kata-kata yang baik, tentunya menolak, ini sudah dilakukan dengan aksi masa. Tidak hanya yang soft tapi yang keras sudah dilakukan,” pungkasnya. |Syidiq Syaiful Ardli|Frenda Yentin|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next