Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Meski mulai sepi, kampung dolanan 'eksis' lestarikan mainan tradisional

Meski mulai sepi, kampung dolanan 'eksis' lestarikan mainan tradisional

Jogjakarta-KoPi| Jauh dari pusat kota Jogja, tepatnya Desa Pandes, Panggungharjo, Bantul terdapat kampung unik 'kampung dolanan'. Kampung yang berdekatan dengan kampus Institut Seni Indonesia ini menjadi pusat dolanan tradisional Jogja.

Awal mula kampung dolanan dari pembangunan chalter paska-gempa Jogja 2006. Atas inisiasi Wahyudi Anggoro Hadi, dibangun tempat bermain anak-anak. Fungsinya untuk menghilangkan trauma gempa. Hal itu disambut warga desa yang notabene berprofesi sebagai pengrajin dolanan.

Lambat laun setelah fase penyembuhan trauma, fungsi kampung dolanan bergeser tempat edukasi dan pelestarian mainan tradisional.

Pengelolaan kampung dolanan selanjutnya mendapat bantuan dari pojok budaya. Nama Sekretariat yang berlokasi di pojok kampung.

Menurut salah satu pengelola, Sekar Mirah Satriani (25), masyarakat desa setempat berkomitmen untuk melestarikan mainan tradisional. Seperti gobag sodor, dingklik oglak-aglek, kacang goreng, serta mainan dengan nyanyian.

Pada awal pembangunan, kampung dolanan ramai dengan anak-anak bermain. Semakin menginjak tahun-tahun saat ini, minat anak bermain berkurang.

 

Sekar tidak memungkiri menurunnya minat bermain, lantaran perkembangan teknologi modern.

"Anak-anak sepi, jarang yang main. Tapi mereka tahu (ada kampung dolanan). Anak-anak sudah main mainan modern seperti gadget," jelas mahasiswi arkeologi UGM ini.

Meski kegiatan harian cenderung sepi, namun aktivitas pagi kampung dolanan ramai dengan anak-anak PAUD.

Paud yang berlokasi di kampung dolanan secara tidak langsung mengajarkan permainan tradisional.

Selain itu keramaian kampung dolanan dengan workshop pembuatan mainan. Melibatkan peserta kalangan TK hingga sekolah dasar.

"Outbond dengan membuat mainan, pesertanya 150an anak rata-rata dari TK-SD,"kata Sekar.

Sementara untuk pengembangan kampung, Sekar belum membahasnya dengan sekretariat. Saat ini masih melaksanakan program yang ada. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next