Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Menurut dua ulama ini, memutar kaset Al-Qur'an di masjid memang salah

Menurut dua ulama ini, memutar kaset Al-Qur'an di masjid memang salah

Jogjakarta-KoPi| Pernyataan kontroversial Wapres Jusuf Kalla melarang pemutaran kaset Al-Qur'an di masjid-masjid yang dianggap menjadi polusi suara atau mengganggu orang lain, mendapakan respon dari banyak kalangan.

Yusuf Mansur, pemilik pesantren Daarul Quran bahkan langsung merespon dengan meminta maaf pada Jusuf Kalla atas nama kaum muslimin di twitternya (9/6).

"Maafkan masjid-masjid... Maafkan surau-surau... Maafkan langgar-langgar... Jika suara-suara kaset, atau suara-suara asli, terasa mengganggu," tulis Yusuf Mansyur.

Namun beberapa ulama di Jogjakarta berbeda dengan Yusuf Mansur. Ustad Abu Mushab dari Ponpes Jamilurrahman Yogyakarta dan K.H Salimi Mambaul Ulu dari Ponpes As Salimiyyah Yogyakarta punya dalil yang justru membenarkan larangan JK. Abu Mus’ab, misalnya mengatakan dasar segala ibadah itu haram kecuali ada dalil dan contohnya.

Mengenai kasus ini Usad Abu Mushab setuju dengan pernyataan JK. Justru dia mempertanyakan niat dan tujuan orang tersebut membunyikan kaset Al-Qur'an.

“Setiap amalan dan perbuatan ada dua pertanyaan dasar, (menyetel murottal) untuk Allah atau siapa? Syaratnya harus ikhlas lillahi  ta’ala. Kedua, perbuatannya itu aplikasinya dasarnya apa, ada contohnya gak, karena Islam ini sudah sempurna. Gak butuh ditambaih dan dikurangi kalau seandainya itu perkara yang baik, Nabi (Muhammad) dari dulu mengamalkannya”, papar Ust. Abu Mushab.

Ust. Abu Mushab menambahkan menyetel murottal sebelum subuh itu tidak ada contohnya. Dalam hadis tidak ada yang membahas menyetel murottal dengan pengeras. Kajian lebih lanjut tindakan tersebut termasuk bid’ah.
“Setiap bid’ah itu sesat, setiap yang sesat akan masuk neraka. Dimisalkan orang sholat subuh empat rakaat, ini disisksa bukan karena sholat, tapi gak mengikuti syarat yang ada”, tambah Ust. Abu Mushab.

Ust. Abu Mushab menegaskan kembali bahwa Islam merupakan agama yang menghargai semua orang. Perlakuan menyetel murottal di waktu dini hari bisa mengganggu orang yang istirahat dan masyarakat non- muslim.

Menyetel kaset pahala untuk siapa ?

Sementara itu pengasuh Pondok Pesantren As Salimiyyah, K. H Salimi Mambaul Ulum, tokoh ulama di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) justru mempertanyakan tujuan dari pihak yang menyetel kaset tersebut. Menurutnya dari sisi ibadah, membunyikan kaset murottal salah kaprah. Dasar dari perintah Allah swt melalui surat Al-Alaq manusia yang diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an.

“Karena orang gak pada baca Al-Qur’an malah wakil kaset, kan harus paham. Besok yang masuk surga kamu, atau kaset? Nah yang baca Al-Qur’an kaset”, K. H Salimi.

K. H Salimi memaparkan maksud dari JK itu agar orang-orang ramai membaca AL-Qur’an di masjid bukan ramai oleh pemutaran kaset.

“Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Attaqū Al-Laha Ĥaqqa Tuqātihi Wa Lā Tamūtunna 'Illā Wa 'Antum Muslimūna (surat Ali Imran :102) , nah Āmanū apa kasetnya yamg beriman, itu dasarnya. Nanti yang iman kasetnya, manusia gak iman”, tambah K. H Salimi.

Sementara itu Din Syamsudin Ketua MUI ketika diminta keterangan tidak memberikan jawaban. MUI sendiri belum memberikan fatwanya seperti yang diminta Wakil Presiden Jusuf Kalla. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next