Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Menteri Kesehatan RI menekan biaya kesehatan dengan pelayan primer

Menteri Kesehatan RI menekan biaya kesehatan dengan pelayan primer

Jogja-KoPi│Pelayanan Kesehatan Primer (Primary Health Care) jadi salah satu solusi untuk mengurangi tingginya angka rujukan ke layanan sekunder (rumah sakit) Indonesia.

Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moelok SpM (K), dalam International Seminar On Primary Care Medicine Indonesia to Strengthen The Universal Coverage (Jaminan Kesehatan Nasional-JKN-Indonesia) yang bertempat di Hotel Tentrem Yogyakarta (3/4), mengatakan bahwa perlu dilakukan penguatan pada pelayanan kesehatan primer untuk menekan biaya kesehatan serta untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

“Kita perlu perkuat pelayanan kesehatan primer, ini merupakan hal utama yang perlu kita kuatkan. Ketika jumlah masyarakat yang sakit berkurang maka biaya kesehatan akan menurun”, ujarnya.

Sementara itu, Indonesia sendiri masih fokus dalam meningkatkan layanan kesehatan sekunder (rumah sakit) yang banyak menghabiskan anggaran kesehatan negara dan berimbas pada banyaknya masyarakat yang berobat ke rumah sakit.

“Angka rujukan ke layanan sekunder di Indonesia sebesar 80%, padahal di dunia Internasional rata-rata angka rujukan ke layanan sekunder hanya 5%.”, jelas Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moelok SpM (K).

Untuk itu akan dilakukan penguatan pada 124 puskesmas yang ada di wilayah perbatasan dari 9754 puskesmas, gerakan masyarakat sehat, dan berbagai kegiatan lainnya sebagai langkah penguatan pelayanan kesehatan primer.

Pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care) sendiri adalah pelayanan kesehatan esensial yang diselenggarakan berdasarkan tata cara dan teknologi praktis sesuai dengan kaedah ilmu pengetahuan serta diterima oleh masyarakat.
Dapat dicapai oleh perorangan dan keluarga dalam masyarakat melalui peran aktif secara penuh dengan biaya yang dipikul oleh masyarakat dan negara, untuk memelihara setiap tahap perkembangan serta didukung oleh semangat kemandirian dan menentukan diri sendiri.

Dokter tidak hanya mengobati tetapi bertugas sebagai advokad di bidang kesehatan bagi pasien.

“Dokter tidak hanya memberikan resep dan memberi obat, tetapi juga berinteraksi dengan pasien mengenai berbagai faktor munculnya penyakit, dampak penyakit bagi pasien dan keluarga. Dokter mampu menangani pasien secara komprehensif dengan cara promotive, preventive, curative, rehabilitative, dan palliative care”, jelas Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moelok SpM (K).

“Upaya promotive dan preventive yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan primer dapat mencegah timbulnya penyakit, dan ketika pasien sakit dapat dirujuk dengan tepat sehingga akan mengurangi biaya kesehatan”, tambahnya.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next