Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Menhan Ryamizard Ryacudu: Pentingnya Bela Negara

Menhan Ryamizard Ryacudu: Pentingnya Bela Negara

Ambon - Guna meningkatkan wawasan dan kepekaan sosial bagi masyarakat umum tentang pentingnya bela negara, Muhammadiyah bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia menggelar seminar bela negara. Seminar bertajuk “Urgensi Bela Negara Demi Masa Depan NKRI” yang diselenggarakan di Gedung Ashari Alfatah Jum’at (24/2).

Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia (RI) Ryamizard Ryacudu memaparkan mengenai ancaman yang dihadapi bangsa. Menurutnya, ancaman yang dihadapi bangsa pada saat ini dapat dibedakan menjadi dua yakni ancaman nyata dan ancaman yang belum nyata.

“Ancaman yang belum nyata akan menjadi nyata apabila integritas bangsa yang terganggu. Kedua, kedaulatan bangsa terganggu, dan yang ketiga apabila keselamatan bangsa ini terganggu, baru kita perang,” jelasnya.

Lanjut Ryamizard, di era yang lalu perang semesta ini hanya bersifat fisik. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dan lain sebagainya perang semesta dapat dibedakan menjadi dua yakni fisik dan non fisik. Kendati demikian, Ia menekankan bahwa kedua perang tersebut mempunyai prinsip yang sama yakni bagaimana mencerai beraikan negara dengan memecah belah kesatuan bangsa.

“Karena perang ke depan, tidak lagi menggunakan fisik. Kalau saya menyebutnya perang modern. Namun pada dasarnya prinsipnya adalah sama. Kita lihat Uni Soviet sebagai negara kuat, pecah menjadi 15 akibat adanya perang dingin tanpa menggunakan senjata dengan Amerika selama bertahun-tahun. Kalau itu dilaksanakan dengan perang berkekuatan, pasti keduanya hancur lebur karena semuanya menggunakan yang paling canggih dan memakai nuklir. Nah, jadi perang ke depan juga begitu,” pungkasnya.

Melihat hal yang demikian, Menhan menekankan pentingnya bela negara. Menurutnya, bela negara adalah mengenai bagaimana pola pikir bangsa tidak akan tergoyahkan.

“Nanti itu, bela negara menjadi sangat penting. Kenapa? Bela negara ini adalah bagaimana mindset kita, berpikiran kita ini tidak tergoyahkan, tidak dimasuki oleh paham lain sehingga kita menjadi ragu-ragu akan kekuatan kita sendiri. itulah urgensinya bela negara,” tandasnya

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyatakan bahwa pada dasarnya modal terbesar yang dimiliki bangsa ini adalah kekuatan batin yang lahir dari dalam. Sementara kekuatan fisik dan militer belum bisa menjamin pertahanan suatu negara.

“Kalau kekuatan batinnya bangsa kita teguh, kokoh, lurus, suci, seperti kata Jenderal Sudirman, maka tidak ada yang bisa menandingi bangsa kita,” kata Haedar.

Dalam kesempatan tersebut,Haedar Haedar juga mengapresiasi kiprah Menhan Ryamizard Ryacudu. “Di samping menyampaikan hal-hal mendasar dalam bela negara, yang juga sangat kaya adalah memberi nilai-nilai ruhani, memberi nilai-nilai spiritual. Inilah menteri pertahanan dan keamanan kita yang di samping menguasai urusan pertahanan dan keamanan, tapi juga urusan batin, urusan yang paling dalam,” kata Haedar.

Haedar juga menyampaikan bahwa ada beberapa musuh bersama dari negara. Musuh itu harus dilawan secara bersama. Pertama, teroris. “Teroris itu bukan bagian dari kita, siapapun kita baik dalam konteks agama, suku, ras, golongan atau apapun. Teroris itu selalu menciptakan terror atau ketakutan,” tutur Haedar.

Menurut Haedar, ada beberapa kategori teroris. Ada teroris yang mengatasnamakan agama. Padahal radikalisme itu bukan urusan agama, tapi bertemalinya agama dengan kepentingan lain. Ada teroris politik yang menghancurkan tatanan dengan melacurkan pemikiran dan oportunistik.

“Ada juga teroris ekonomi. Yaitu pelaku-pelaku yang bisa menguasai Indonesia. ia tak pernah merasa iba terhadap penderitaan rakyat. Yang penting ia keruk keuntungan sebesar-besarnya untuk keuntungan dirinya,” urai Haedar.

Musuh kedua adalah koruptor. Koruptor itu, kata Haedar, seperti rayap tapi menghancurkan bangunan. Haedar mengajak siapapun untuk melawan koruptor dari hal-hal terkecil.

“Mulailah membangun karakter untuk tidak memperoleh sesuatu dengan jalan yang tidak halal dan tidak baik, meskipun bisa da nada kesempatan. Perkuat karakter kita. Kalau karakter kita kuat insyaallah berkah. Jangan pernah takut miskin karena kita punya kepribadian,” ungkapnya.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next