Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi jangan jauhi pelakunya

lugman

Jogja-KoPi|Menteri Agama (Menag) RI, Luqman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa semua agama menolak tindakan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Hal ini disampaikan untuk merespon putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak uji materi soal LGBT beberapa waktu lalu.

"Semua agama tidak menyetujui tindakan LGBT. Perilaku ini ditolak semua agama dan itu sudah menjadi kesepakatan bersama serta iktifat atau tidak ada keraguan didalamnya,"tegas Menag usai acara Gebyar Kerukunan di GOR UNY, Senin (18/12).

Menag juga menjelaskan tidak hanya pandangan agama yang menolak, namun norma hukum positif Indonesia juga tidak mengizinkan LGBT. Hal ini bisa dilihat dari undang-undang perkawinan yang menegaskan bahwa perkawinan ditetapkan sah apabila kedua mempelai sejatinya berbeda jenis kelamin antara satu sama lain, bukan sesama jenis.

"Jadi tentunya tidak ada norma hukum yang melegalisasikan tindakan(LGBT) itu ," jelasnya.

Luqman mengimbuhkan persoalan saat ini bukanlah penolakan namun bagaimana umat beragama menyikapi pelaku yang memiliki orientasi seksual seperti LGBT. Menag pun memaparkan sampai saat ini muncul keragaman pandangan seperti dari pemuka, akademisi agama, kesehatan, kejiwaan dan ahli sosial yang melihat fenomena ini.

Bentuk pandangannya bervariatif seperti pendapat perilaku penyimpangan, masalah sosial, kutukan dari Tuhan, hingga takdir sejak bayi. Ia menegskan semua pandangan ini tidak harus diterima secara langsung ataupun ditolak secara mentah-mentah.

"Menurut hemat saya, masing masing pandangan ini harus dihormati dan dihargai,"timpalnya.

Lebih lanjut , Luqman mengatakan dirinya tidak akan menyalahkan para pelaku LGBT atas perilaku mereka. Menag mengajak semua penganut agama agar mengarahkan para pelaku LGBT ini kembali ke ajaran yang benar. Respon mengucilkan dan menjauhi pelaku LGBT ,menurutnya justru dirasanya tidak sesuaai dengan tujuan semua agama.

"Jadi menurut saya, kita harus merangkul serta mengayominya (pelaku LGBT), bukan di kucilkan dan dijauhi. Justru kewajiban kita sebagai umat penganut agama ,bahwa agama itu mengajarkan kalau kita tahu ,katakanlah tindakan yang mereka lakukan sesat, kita harus mengajak mereka ke jalan yang benar,"pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next