Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Mampir di UAJY, Sejarawan Polandia ajarkan multikulturalisme

Mampir di UAJY, Sejarawan Polandia ajarkan multikulturalisme

Jogjakarta-KoPi|Dalam sejarah arsitektur bangunan dunia bertalian antara satu negara dengan negara lain. Bahkan sebelum abad kedua Masehi, pertalian ini muncul dalam cara berpakaian para penguasa dan masyarakat yang merupakan campuran antara Perancis serta Tartar.

Salah satu negara di Eropa, Polandia kaya akan arsitektur dari warisan zaman masa lalu. seperti arsitektur gothic, roman, baroque yang kesemuanya hadir dalam beragam bangunan.

Menurut sejarawan Polandia, Prof. Dr. Sergiusz Michalski Polandia berada dalam pusaran sejarah bangsa tetangga seperti Prussia-Jerman, Russia, Austro-Hungaria, Ottoman Turki. Gereja sebagai ekspresi simbol tidak luput menjadi wujud persilangan ini.

Silih bergantinya kekuatan dominan di Polandia muncul dalam model, ikon, dan simbol Gereja. Begitupun dengan gedung parlemen, teater, dan kafe yang menunjukkan bagaimana masyarakat menjadi cerminan dari persilangan tersebut.

Prof. Michalski menambahkan latar belakang sejarah tersebut menjadi bekal untuk memahami multikulturalisme budaya. Sekaligus menjadi tantangan bersama, mengingat selama ini perbedaan budaya menjadi konflik.

“Memahami perbedaan budaya, demografis, dan bahasa yang berbeda dalam satu daratan yang sama tidaklah mudah,” jelas Prof. Michalski saat kuliah umum ‘Multicultural Polity on both Poland and Indonesia’ di FISIP Universitas Atma Jaya.

Sementara Wakil Dekan III FISIP UAJY Desideria Cempaka Wijaya Murti, M.A memandang positif pernyataan dari Prof. Michalski, adanya perbedaan tidak dijadikan alat pemicu konflik antar manusia.

“Banyak tokoh Polandia yang telah mendapat penghargaan Nobel, baik untuk masalah perdamaian internasional atau lainnya, sehingga tidak ada salahnya kita belajar mengenai isu-isu perdamaian di Eropa dari seorang guru besar Polandia” ujarnya.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next