Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Ketemu eksibisionis, ketawain aja

Ketemu eksibisionis, ketawain aja
Surabaya-KoPi| Teror eksibisionis di kawasan kampus Universitas Airlangga ternyata sudah lama terjadi. Sebagai kawasan yang banyak terdapat kos mahasiswi, UNAIR dianggap sebagai sasaran empuk bagi para pelaku penyimpangan seksual.
 

Dosen Fakultas Psikologi UNAIR Margaretha menuturkan, pelaku penyimpangan seksual seperti eksibisionisme mendapat kepuasan seksual jika melihat korbannya terkejut. Karena itu, untuk merespon atau menghilangkan perilaku tersebut adalah dengan memastikan pelakunya tidak mendapat kepuasan. Karena jika pelaku mendapat kepuasan, ia akan terus mengulang tindakan tersebut.

"Harusnya jangan terkejut," ujar Margaretha sambil tertawa. "Memang sulit, tapi ada situasi di mana kita seharusnya tidak bereaksi secara berlebihan. Kaget boleh, tapi langsung berpaling aja atau langsung panggil orang, tidak usah teriak. Karena kalau kita teriak, pasti ia akan puas," sambung Margaretha.

Ia menambahkan, kaum hawa harus lebih hati-hati dan waspada saat melihat situasi yang tidak biasa. Pelaku eksibisionisme selalu beraksi di tempat di mana ada korban potensial, seperti kawasan kos mahasisiwi. Mereka mencari tempat di mana ada perempuan biasa lewat, namun tidak banyak orang lain lalu lalang.

Margaretha menyebutkan, sebenarnya ada cara lebih ekstrim untuk memberi efek punitif atau hukuman pada pelaku eksibisionisme. Yaitu dengan mengecilkan atau meremehkan apa yang dilakukan pelaku. Dengan begitu, kepercayaan dirinya yang sudah kecil akan lebih direndahkan lagi.

"Bisa dengan cara melengos atau pergi begitu saja. Atau kalau cukup berani bilang aja: Ih, kecil gitu dipamerin," ujarnya. "Dengan cara seperti itu, setidaknya pelaku tidak lagi menyasar orang atau tempat yang sama," tambah Margaretha.

Ia menjelaskan, pada dasarnya itu adalah prinsip psikologi sederhana. Sebuah perilaku akan diulang jika mendapatkan reward atau efek yang menyenangkan. Kalau tidak ada efek yang menyenangkan, tindakan tersebut akan menjadi sia-sia dan pelaku tidak akan mengulangi tindakan tersebut.

Meski demikian, Margaretha mewanti-wanti agar tidak gegabah, karena bisa jadi pelaku eksbisionisme akan jadi nekad mengejar. Pada dasarnya tidak merespon tindakan pelaku saja sudah cukup.

Margaretha menyatakan, eksibisionis adalah perilaku yang melanggar norma dan hukum kesusilaan, jadi sudah seharusnya dilaporkan pada pihak berwajib. "Lebih baik ketika pelaku melakukan tindakan itu, foto saja muka dan badannya, sehingga bisa jadi bukti dan memudahkan penyelidikan dan penyidikan," tukasnya.

 

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next