Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Kelompok Islam radikal hanya gunakan peradaban Arab yang bangkrut

Kelompok Islam radikal hanya gunakan peradaban Arab yang bangkrut

Jogja-KoPi│Buya Syafii Maarif, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke-13 mengatakan kelompok Islam yang keras dan radikal di Indonesia menggunakan peradaban Arab yang bangkrut.

 

“Kelompok keras itu sebenarnya menginvestai dari peradaban muslim arab yang bangkrut, jadi tidak semua tradisi Islam”, jelasnya saat diwawancarai dalam acara Seminar Internasional Budaya Tionghoa di Ballroom Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Rabu (10/5).

Menurutnya, budaya Arab tidak seharusnya dibawa dalam menganut agama Islam karena pokok ajaran Islam adalah Al Quran dan perilaku Nabi Muhammad SAW.

“Bacaan pokok adalah Al quran dan perilaku Nabi, bacaan pokok haram dan bacaan lainnya bukan asli dari Islam. Ada dimensi Arabisme yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan nabi dan Islam yang dibawa kesini, seperti kekerasan, merasa benar sendiri”, ujarnya.

Ia juga menghimbau kepada masyarakat terutama umat Islam untuk tidak menyamakan Islam dengan Arab, karena Islam sangat berbeda dengan Arab.

“Masyarakat yang tidak mampu bahasa arab jangan menyamakan Arabisme dengan Islam, harus hati-hati. Alquran bukan untuk Arab tapi semua umat manusia yang mau mempercayainya”, jelasnya.

Selanjutnya ia mengatakan perpecahan yang dulu terjadi pada elit politik Arab dengan alasan agama dan Al Quran mulai dirasakannya di Indonesia.

“Arabisme ini usianya sudah berabad-abad dan perpecahan elit arab pada awal abad mulai terasa beberapa saat, dan kita harus keluar dari konflik politis itu yang biasanya mereka mengatas namakan Al quran, atas nama agama. Itu hanya Arabisme”, jelas Buya.

Ia mengajak umat Islam untuk keluar dari perpecahan tersebut dan kembali pada paham pancasila dan NKRI.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next