Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Inilah opini para orang tua pada Hardiknas

Inilah opini para orang tua pada Hardiknas

Jogjakarta- KoPi| Perayaan Hari Pendidkan Nasional (Hakdiknas) mendapat respon yang beragam dari masyarakat. Jajaran institusi pendidikan cenderung merayakannya dengan upacara simbolis di lapangan. Sementara para mahasiswa turun ke jalan berunjuk rasa menyuarakan tuntutannya.

Dalam hal ini Koranopini.com merangkum pendapat masyarakat biasa. Para orang tua yang mempunyai anak usia sekolah mengenai pandangannya terhadap Hardiknas.
Menurut warga Bogor, Dedi mentakan soal kualitas pendidikan terletak pada kurikulumnya. Berganti-gantinya kurikulum setiap penggantian pipminan kurang berdanmpak baik pada pendidikan.

“Baiknya bukan gonta-ganti kutikulum tapi perturan turunannya”, papar pegawai PNS di Bogor ini.
Selain itu Dedi juga mengkritik tidak seimbangnya biaya pendidikan antara sekolah swasta dengan sekolah negeri. Menurutnya ke depan pemerintah menggalakan sekolah yang murah.

Hal serupa disampaikan oleh penjual kacamata Yohan (40) dirinya merasa kesulitan dengan biaya sekolah anaknya. Yohan yang kesehariannya berjualan kacamata di Nol Kilometer kecewa tidak tepatnya bantuan BSLM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) dari pemerintah.

“Pendidikan sangat mahal untuk orang-orang seperti kita itu gak terjangkau, adanya bantuan BLSM itu tidak tepat sasaran, ada yang gak terdata, nah kita jualan saja dikejar-kejar dintip, pengennya gak melanggar tapi gimana untuk sekolah anak”, papar ibu dua anak ini.

Sementara Pak Kumis yang kesehariannya menjadi tukang becak mengatakan sudah banting tulang untuk membiayai sekolah anaknya. Adanya penertiban oleh Pol. UPT Jogja menertibkan becak areal Nol Kilometer menjadi kendala mencari nafkah.

“Cari uang seperti ini (becak) dikejar gak pol. UPT, gak boleh cari uang di sini, kita mau nyari kemana ke pelosok ya gak ada uang. Pemerintah kurang kasian sama orang gak punya, yang dipikir cuma dirinya sendiri. Sulit-sulit cari uang anak 3, SMA, SMP, SD, pendapatan uang sehari Rp 40 ribu, yang buat makan apa, ditambah biaya sekolah yang mahal”, papar Pak Kumis. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next