Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Ini bukti pelanggaran etika perusahaan susu formula

Ini bukti pelanggaran etika perusahaan susu formula
Surabaya - KoPi | Kampanye pemasaran perusahaan Susu Formula di Indonesia dirasa masih menjadi acuan gagalnya proses ASI esklusif seorang ibu. Dalam PP Nomo 33 Tahun 2012 mengenai program ASI esklusif dan menentang pemasaran perusahaan susu formula kepada amsyarakat. Namun masih banyak ditemui perusahaan susu formula yang berkampanye dengan cara diam-diam.

Seperti yang dituturkan oleh Idzma Mahayatika, penggerak komunitas Ayah Asi ini turut geram dengan perusahaan susu formula yang masih menyalahi peraturan. “Regulasinya jelas telah ada. Mereka tidak boleh memasarkan kepada masyarakat. Namun, masih banyak sekali perusahaan yang menyelundupkan pemasaran. Sayangnya belum ada sanksi tegas dari pemerintah” uajr Idzma saat dihubungi KoPi.

Menurut Idzma, bentuk pelanggaran perusahaan susu formula saat ini masih ditemui secara terang-terangan. Di media televisi, intansi tempat anak dan ibu berkumpul dan moment-moment tertentu.  Acara-acara tertentu bahka dengan sangat bangga menjadikan produk susu formula sebagai sponsor utamanya. Sehingga pihak penyelanggara akan memerkan kepada tamu undangan mengenai produk tersebut.

“Packaging mereka bagus. Jadi di Rumah sakit diberikan body bag sehingga membuat ketertarikan para ibu untuk mempercayai produk mereka. Padahal itu jelas menyalahi aturan” tutur Idzma.

Idzma sendiri mengalami bentuk pemasaran perusahaan susu formula yang telah melanggar kode etiknya. Ayah dua anak ini ditelfon  sebuah perusahaan susu formula setelah pulang dari persalinan istrinya yang habis melahirkan. “Ada keterlibatan rumah sakit dan dokter disana. bagaimana pihak perusahaan tersebut tahu kontak saya, dan bagaimana mereka tahu bahwa istri saya baru saja lahirkan. Sayang sekali” ujarnya.

Baginya, hal yang seharusnya dilakukan saat ini adalah pemberian sanksi tegas kepada pihak yang terlibat. Instansi, personal ataupun komunitas yang terlibat turut memasarkan produk susu formua harus diberikan sanksi tegas.

“Jangan hanya peraturan, harus ada bukti dan aksi nyata. Masyarakat yang melihat aksi tersebut harus melapor. Jangan ragu, banyak lembaga yang siap menampung laporan tersebut. Masyarakat juga harus bergerak” tutupnya.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next