Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Hadapi pengungsi Rohingya, ASEAN seperti macan ompong

Hadapi pengungsi Rohingya, ASEAN seperti macan ompong
Surabaya - KoPi | Pengawas Khusus PBB untuk Palestina Makarim Wibisono mengkritik keras ketidakmampuan ASEAN dalam menangani permasalahan pengungsi Rohingya. Menurutnya, ASEAN telah gagal mewujudkan misinya menjadi komunitas sosial dan budaya di Asia Tenggara.
 

"Kasus Rohingya ini menunjukkan ASEAN impotence (ketidakberdayaan ASEAN). Orang-orang bilang ASEAN itu harimau, tapi sebenarnya harimau ompong, tak punya gigi dalam menyelesaikan masalah pengungsi Rohingya," tukas Makarim ketika menjadi pembicara dalam Diskusi Publik "Status Kemanusiaan Pengungsi Rohingya" di Surabaya (27/5).

Menurut Makarim, ASEAN selama ini tidak memiliki aturan mengenai pengungsi. Akibatnya, nasib 800 ribu warga Rohingya yang terusir dari Myanmar semakin tidak jelas.

Menurut Makarim, masalah Rohingya ini tidak hanya mengenai kemanusiaan saja, tetapi juga masalah keamanan regional. ASEAN sebagai caring community berkewajiban menangani masalah ini dengan seksama. 

Makarim mengungkapkan, ASEAN membutuhkan sebuah badan pengungsi yang bisa berkoordinasi dengan badan PBB seperti UNHCR. Ia mengatakan hingga saat ini warga Rohingya masih belum mendapat status pengungsi dari UNHCR, melainkan hanya displaced people (warga yang terusir).

Badan pengungsi ASEAN ini juga akan bisa menangani permasalahan pengungsi dan pencari suaka yang ingin menuju Australia. Selama ini banyak pengungsi dan pencari suaka asal Afghanistan yang ingin mencapai Australia untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

"Masalah Rohingya ini tidak bisa ditangani oleh satu negara saja, melainkan harus diselesaikan secara regional," pungkas Makarim.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next