Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Hadapi pengungsi Rohingya, ASEAN seperti macan ompong

Hadapi pengungsi Rohingya, ASEAN seperti macan ompong
Surabaya - KoPi | Pengawas Khusus PBB untuk Palestina Makarim Wibisono mengkritik keras ketidakmampuan ASEAN dalam menangani permasalahan pengungsi Rohingya. Menurutnya, ASEAN telah gagal mewujudkan misinya menjadi komunitas sosial dan budaya di Asia Tenggara.
 

"Kasus Rohingya ini menunjukkan ASEAN impotence (ketidakberdayaan ASEAN). Orang-orang bilang ASEAN itu harimau, tapi sebenarnya harimau ompong, tak punya gigi dalam menyelesaikan masalah pengungsi Rohingya," tukas Makarim ketika menjadi pembicara dalam Diskusi Publik "Status Kemanusiaan Pengungsi Rohingya" di Surabaya (27/5).

Menurut Makarim, ASEAN selama ini tidak memiliki aturan mengenai pengungsi. Akibatnya, nasib 800 ribu warga Rohingya yang terusir dari Myanmar semakin tidak jelas.

Menurut Makarim, masalah Rohingya ini tidak hanya mengenai kemanusiaan saja, tetapi juga masalah keamanan regional. ASEAN sebagai caring community berkewajiban menangani masalah ini dengan seksama. 

Makarim mengungkapkan, ASEAN membutuhkan sebuah badan pengungsi yang bisa berkoordinasi dengan badan PBB seperti UNHCR. Ia mengatakan hingga saat ini warga Rohingya masih belum mendapat status pengungsi dari UNHCR, melainkan hanya displaced people (warga yang terusir).

Badan pengungsi ASEAN ini juga akan bisa menangani permasalahan pengungsi dan pencari suaka yang ingin menuju Australia. Selama ini banyak pengungsi dan pencari suaka asal Afghanistan yang ingin mencapai Australia untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

"Masalah Rohingya ini tidak bisa ditangani oleh satu negara saja, melainkan harus diselesaikan secara regional," pungkas Makarim.

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next