Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Guru Besar Ekonomi UI persoalkan dilema impor beras

Guru Besar Ekonomi UI persoalkan dilema impor beras

Jogjakarta-KoPi| “Harga beras di Indonesia jauh lebih tinggi dari harga internasional, dahulu kalau fluktuasi harga internasional harga beras di nasional cenderung stabil, kini malah sebalikya harga beras di internasional stabil harga di nasional tidak stabil,” kata Guru Besar Ekonomi UI, Mohamad Ikhsan.

Selain masalah harga, sejak masa Orde Baru permasalahan beras selalu menjadi perbincangan hangat. Hal lain yang turut mejadi sorotan tentang ketersediaan beras dan korelasinya dengan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Menurut Mohamad Ikhsan berdasarkan data Badan Pusat Statistik produksi beras nasional saat ini belum mencukupi kebutuhan rakyat nasional. “Dalam keadaan normal pun beras ga cukup, indeks beras kita -0,67,” saat mengisi Ekonomi Talks Telaah Kebijakan Perberasan dan Dampaknya di Indonesia di Gedung Pertamina Tower FEB UGM pukul 13.00 WIB.

Sementara produksi beras yang menjadi variabel pangan utama masyarakat terus menurun, seiring dengan buruknya cuaca dan bertambahnya konsumsi beras. Seperti dampak cuaca seperti El Nino yang akan melanda wilayah Indonesia. Mohamad Ikhsan memprediksi El Nino berupa kekeringan panjang berimbas pada perununan produksi pertanian.

“Dampak El Nino terhadap produksi pangan akan menurun. Kalau data tahun 2010 lalu terjadi devisiasi sekitar 4,1%, produksi beras drop 1,76 juta ton,” jelas Mohamad Ikhsan yang juga menjabat Staf Ahli Wakil Presiden RI.

Dalam hal ini Mohamad Ikhsan mendukung kebijakan pemerintah untuk impor beras, menutup kekhawatiran ketersediaan beras, “Data ini pijakan untuk mengambil keputusan, mau tidak mau harus impor.”

Meski mendukung kebijakan impor beras, namun di sisi lain Mohamad Ikhsan mengkhawatirkan posisi para petani. Mohamad Ikhsan mempertegas peran pemerintah memberikan solusi terhadap persoalan krisis pangan.
 
“Pemeritah dalam hal ini harus tegas siapa yang mau diproteksi peningkatan kesejahteraan produksi atau para petani,” pungkasnya. |Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next