Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Gelar sultan : Arti Buwono menjadi Bawono, jauh berbeda

Gelar sultan : Arti Buwono menjadi Bawono, jauh berbeda

Jogjakarta-KoPi| “Penetapan sudah sejak zaman Demak, Pajang sampai Mataram Islam ya harus kailfatullah, orang pada derajat ketakwaan. Kalau orang gak takwa disuruh mimpin masyarakat ya ga boleh”, tegas Kyai Agus Sunyoto.

Dalam kesempatan menjadi narasumber seminar Revitalisasi Islam Jawa di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Kyai Agus Sunyoto memaparkan esensi kalifatullah.

Penghapusan gelar kalifatullah sultan dianggap telah melanggar tradisi penetapan gelar sejak zaman Mataram Islam. Upaya sultan HB X mengganti gelar dengan tiba-tiba tanpa didasari dengan musyawarah bisa terbilang unsur kesewenangan semata.

“Jadi kekuasaan tungal itu gak ada, waktu zaman Demak dan zaman Pajang itu harus ada dewan wali songo yang memutuskan. Dulu keluarga sebagai penasehat kan ada. Nah sekarang apa ada? Sultan tidak ada penasehat ini rawan. Sekarang apa ada institusi atau figur lain yang lebih tinggi dari sultan, itu gak ada”, papar Kyai Agus Sunyoto.

Hal lain yang disoroti oleh Kyai Agus Sunyoto mengenai perubahan ‘Buwono’ menjadi ‘bawono’. Menurutnya perubahan nama tersebut telah bergeser jauh dari makna aslinya.

“ Nah ini termasuk ketidakmengertian dengan arti istilah Jawa. Dari Buwono diganti dengan Bawono, Buwono artinya itu dunia, nah Bawono itu konsep, kan jauh. Ini simbol ini gak nyambung”, ujar Kyai Agus Sunyoto.
|Winda Efanur FS|

back to top

More in News Categories

Prev Next

Other Categories

Prev Next